Saya selalu percaya bahwa dokter yang hebat dimulai dari kefasihannya dalam mendiagnosa suatu penyakit. Bayangkan, jika seseorang datang berobat kepada dokter untuk penyakit TBC. Kemudian, sang dokter memberikan obat cacing. Bisa dipastikan pasien tersebut tidak akan menerima kesembuhan, karena penanganan yang diberikan tidak pada faktor penyebabnya.

Begitu juga dengan stres. Sebelum kita menggunakan tehnik terapi dalam mengatasi stres, terlebih dahulu kita harus mampu menganalisis bagaimana seseorang bisa mengalami stres. Setelah kita berhasil menganalisis sumber penyebab terjadinya stres, teknik terapi yang digunakan nantinya akan jauh lebih efektif.

Pada topik ini, saya akan memberikan cara bagaimana kita mampu menganalisis faktor penyebab timbulnya stres di dalam diri seseorang, sehingga nantinya pada proses pemilihan tehnik terapi dapat sesuai dengan sumber penyebabnya.

                 

               

Ada beberapa poin yang dapat kita perhatikan untuk menganalisis timbulnya masalah, yaitu dengan mengikuti langkah-langkahnya, yaitu :

  1. kejadian yang dipermasalahkan.
  2. caranya mempermasalahkan (sikap yang menimbulkan stres).
  3. emosi yang ada.
  4. tindakan yang dihasilkan.
  5. dampak yang ditimbulkan.

Kelima hal yang harus Anda perhatikan tersebut bertujuan agar Anda memahami bahwa stres timbul tidak muncul dengan sendirinya. Ada proses yang mendahuluinya.

Untuk mempermudah Anda dalam memahami analisis masalah ini, mari kita bahas beberapa kasus nyata yang pernah saya tangani berikut ini!

 


Suatu waktu ketika saya diajak berwisata ke Brastagi oleh salah seorang junior saya. Junior saya ini datang dari Jakarta  untuk memperkenalkan pacarnya kepada orang tuanya yang berada di Medan dan meyakinkan orang tuanya bahwa hubungan mereka memang serius.

Selepas acara perkenalan itulah, saya diajak jalan bareng ke Brastagi bersama pacarnya yang sudah saya kenal saat saya mengambil pelatihan NLP (Neuro-Linguistic Programming) dan Hipnoterapi di Jakarta, beberapa tahun yang lalu.

Baru 10 menit perjalanan dimulai, junior saya ini ditelepon oleh ayahnya, ternyata kepergian kami ini belum mendapat izin dari orang tuanya.  Mendengar kami mau berangkat dan menginap di Berastagi, sang ayah langsung memarahi dan memintanya untuk tidak berangkat ke sana.

Mendengar perintah orang tuanya itu, junior saya tadi kecewa dan menangis. Dia merasa kalau dirinya masih dianggap seperti anak kecil dan tidak bisa menjaga diri. Dalam perjalanan kembali ke Medan, dia hanya menangis dan mengeluh atas keputusan ayahnya tersebut.

 

 

Berdasarkan kisah di atas, mari kita analisis masalah yang terjadi!

  1. Kejadian yang dipermasalahkan Yaitu sikap orang tua yang melarang kami berangkat ke Brastagi.
  2. Cara mempermasalahkannya, Yaitu : (1)Valuenya terganggu (2)Menyalahkan orang tua (3)menuntut orang tua memahaminya karna dia sudah dewasa (4) egois,hanya berpikir kejadian itu berdampak pada dirinya, bukan kenapa orang tuanya melakukan itu (5) Negatif thingking (mengartikan bahwa ortunya otoriter).
  3.    Emosi yang muncul, yaitu : Kecewa, marah, sedih dan stres. 
  4.    Tindakannya, Yaitu : Ia menangis dan mengomel selama perjalanan kembali ke Medan.
  5.    Dampak yang dirasakan, yaitu : Dia merasa sakit kepala karena kekecewaannya tersebut.

Seperti itulah tahapan yang terjadi ketika suatu masalah muncul. Ia mengalami stres karena responsnya sendiri. Melalui proses analisis masalah, kita semakin paham bahwa stres terjadi sebagai akibat dari respons yang kita pilih sendiri. Setelah tahapan analisis masalah ini dilakukan, kita akan semakin mudah menentukan terapi yang tepat untuk stres yang kita alami.

Baiklah! Kita masuk ke contoh kedua, yakni:


Sewaktu kuliah dulu, saya pernah sangat kecewa  dengan perlakuan seorang teman. Saat itu saya mengendarai mobil dan ingin mengajak teman tersebut untuk berangkat bersama menuju lapangan sepak bola. Ketika ia masuk ke dalam mobil, dia mengambil tempat duduk di bagian belakang. Padahal saat itu tempat duduk di samping saya masih kosong. Spontan saya langsung berteriak dan memarahinya.

“Woi, kau kira aku ini supirmu. Turun kau! Dah ditumpangin, kau buat pula aku kayak supirmu.”

Begitu marahnya saya sehingga saat itu saya memaksa teman tersebut untuk turun dari mobil. Saya sadari, beberapa hari setelah kejadian itu, hubungan kami menjadi renggang. 

 

 

Mari kita analisis masalahnya!

  1. Kejadian yang dipermasalahkan, yaitu : Kawan saya duduk di bangku bagian belakang. 
  2. Caranya mempermasalahkan, Yaitu :(1) Belief terganggu (2) Menyalahkan sikapnya (3) Egois,                 hanya memikirnya dampaknya pada diri saya (4) Negatif thingking, karna mengartikan duduk di belakang mengartikan saya sebagai supir.
  3. Emosi yang muncul, Yaitu : Marah dan kesal.
  4. Tindakannya, Yaitu : Mengusirnya turun dari mobil sambil memarahinya.
  5. Dampak yang dirasakan, yaitu : Hubungan menjadi renggang.

 

Berikut ini contoh kasus ketiga!


Seorang ibu sedang menyiapkan santapan makan malam bagi keluarganya.  Dalam rangka  merayakan hari ulang tahun pernikahan mereka, maka sang ibu tersebut berniat memberikan kejutan dengan memasak masakan favorit suaminya.

Waktu terus berputar, sudah lewat pukul 21.00 Wib, sang suami belum juga pulang. Padahal biasanya sang suami sudah tiba di rumah paling lama pukul 19.00 Wib. Ia pun memanggil sang anak yang berusia 4 tahun.

Nak, tolong telepon papamu, kenapa jam segini kok belum pulang?”

Tidak berapa lama setelah itu sang anak menghampiri ibunya.

Ma, papa sedang sama cewek,” kata si anak.

Ah, kok bisa ?!” Suara si ibu meninggi. Ia mulai berpikir yang tidak-tidak tentang suaminya. 

“Iya, Ma, aku sudah telepon tiga kali. Terus, yang angkat telepon cewek, Ma.” Tambah anaknya.

“Arrggghhh....” Teriak si ibu.

Berselang beberapa menit setelah itu, sang suami tiba di rumah.

Gedebuk!! Prang!! Jeder!! Plak!!!

Pukulan, makian, lemparan handpone pun menghantam tubuh sang suami ketika masuk ke dalam rumah. Si suami tampak bingung dengan perilaku istrinya tersebut. Ia sama sekali tak diberi kesempatan untuk bicara. 

“Kamu ini orang tidak tahu diri, Mas. Masih sempat-sempatnya kamu selingkuh. Padahal aku telah menyiapkan makanan kesukaan kamu untuk merayakan hari ulang tahun pernikahan kita.”

Tidak terima disalahkan seperti itu, suaminya pun naik pitam dan membalasnya dengan penuh amarah.  


“Kamu itu orang yang tidak tau diri. Sejak jam enam tadi aku minta ijin sama pimpinan agar pulang lebih awal untuk mencari kado spesial buatmu. Dua jam lamanya aku bingung mencari kado yang terbaik buatmu. Itu sebabnya aku pulang terlambat. Sekarang apa yang kudapat? Kamu menuduhku selingkuh. Kamu tampar aku! Apa buktinya, hah?!”

Berharap suaminya mengakui kesalahan dan minta maaf, namun kenyataan yang terjadi sang suami malah membantahnya. Si istri kemudian memanggil si anak untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya.

Nak, kasih tau sama papamu, apa yang kamu dengar tadi?”

Dengan polosnya si anak menyampaikan apa yang telah didengarnya tadi.

Papa tadi sama cewek,”

Suasana tampak hening. Si anak memandang sekilas ke arah ibunya.

“Nak, maksud kamu apa? Kok bisa kamu tuduh papa seperti itu?

“Iya. Papa sama cewek. Buktinya, tadi aku telpon ada tante-tante yang jawab.”tambahnya.

“Nak, handphone papa itu dari siang tadi habis batre. Emang apa yang dibilang tante itu?” Jawab sang ayah pelan.

“Telepon yang anda tuju sedang diluar jangkauan. Tuh kan papa lagi sibuk sama tante itu.” Jelas si anak kemudian.

Mendengar penjelasan si anak, sang suami makin memuncak amarahnya.

Kamu itu, ya, jadi orang cari info tuh sejelas-jelasnya. Jangan cemburuan aja. Itu kan suara operator yang menandakan bahwa hape sedang tidak aktif. Sekarang aku tidak terima perlakuanmu. Kita cerai!

 

 

 

Mari kita analisis masalah yang terjadi. Ingat! Analisis masalah diperuntukkan untuk orang yang bermasalah. Dari kasus ini,  ada dua orang yang bermasalah sehingga dua orang pula perlu dianalisis masalahnya.

Pertama, sang istri terhadap suami, yakni:

  1.     Kejadian yang dipermasalahkan, Yaitu : Pernyataan si anak yang mengatakan kalau  papanya  sedang bersama perempuan lain.
  2.    Caranya mempermasalahkan, yaitu : (1)  Melanggar value karna acara aniversarry  terganggu dengan adanya wanita lain (2) Menuntut dan menyalahkan sikap suaminya (3) Egois hanya memikirkan dampaknya pada diri sendiri (4) Negatif thingking karna menganggap suaminya selingkuh   
  3.     Emosi yang muncul, Yaitu : Marah, kecewa, dan benci terhadap suaminya.
  4.     Tindakan yang timbul, Yaitu : Menampar dan memukul suaminya.
  5.    Dampak yang Terjadi dari Kejadian Tersebut, Yaitu : Mendapatkan perlawanan dari suaminya.

 

Kedua, sang suami terhadap istrinya, yakni

  1. Kejadian yang dipermasalahkan, Yaitu : Pemukulan, tamparan dan tuduhan si istri.
  2. Cara mempermasalahkannya, Yaitu : (1) Mengganggu identitas. Dituduh orang yang    selingkuh (2) Menyalahkan
  3.  Emosi yang muncul, yaitu :  Kecewa, marah dan benci.
  4. Tindakannya, yaitu : Mengatakan cerai terhadap istrinya.
  5. Dampak atas Tindakannya, Yaitu : Hubungan keduanya menjadi tidak harmonis.

         

 

Walaupun mereka berdua mengalami pengalaman yang sama, namun kejadian yang dipermasalahkan belum tentu sama. Itu sebabnya, kita harus membaginya menjadi dua analisis masalah.

Untuk lebih memahirkan kembali kemampuan menganalisis masalah ini, Anda boleh berlatih sendiri dengan mengamati berbagai masalah yang ada. Mungkin pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain.

Dalam proses menganalisis masalah yang terjadi pada orang lain, Anda  dapat memberikan beberapa pertanyaan di bawah ini.

1.         Kapan awal mula Anda mengalami stres?

         Pertanyaan ini bertujuan untuk mengukur sudah berapa lama stres tersebut terjadi.

 

2.         Apa yang terjadi saat itu?

         Pertanyaan ini bertujuan untuk mengetahui kejadian yang dipermasalahkan.

 

3.         Bagaimana kejadian itu bisa membuatmu stres ?

         Pertanyaan ini digunakan untuk mengetahui bagaimana peran persepsinya dalam mempermasalahkan kejadian. Sebaiknya hindari pertnyaan, mengapa kamu stres? Karena jawaban akan fokus pada menyalahkan kejadian. Padahal sumber stres ada dalam persepsi seseorang, bukan pada kejadiannya.

 

4.         Apa kemelekatan yang terganggu?

         Hal ini ingin mengetahui aspek-aspek kemelakatan yang dirasa mengganggu seperti ide