Suatu hari, disaat sedang praktek saya menyerahkan kartu nama saya sambil mengatakan kepada pasien tersebut agar selain mengikuti petunjuk pemakaian obatnya juga harus menjaga stresnya supaya tidak memperburuk keadaanya. Melihat kartu nama saya, dia terheran. Bagaimana bisa kasus-kasus yang tertulis itu bisa ditangani?? Mungkin pertanyaan ini juga menjadi pertanyaan banyak orang. Benarkah semua kasus ini bisa ditangani dengan hipnoterapi???

Inilah yang mau saya bahas disini. Karna masih banyak yang menganggap penanganan dengan hipnoterapi memiliki kesan yang negatif. Menggunakan mistik (JIN), MAHAL, bisa memBongkar Rahasia, dan kesan negatif lainnya..padahal hipnoterapi sendiri sudah masuk dalam Standard Kompetensi Dokter Indonesia dan terbukti pengobatan tersebut sudah melalui uji ilmiah.

Apakah benar semua kasus yang disebutkan itu bisa ditangani dengan hipnoterapi??

Saya akan menjawab satu persatu.

Jika ditanyakan apakah kasus itu bisa yang ditangani jawabannya jelas BISA. Bisa bukan berarti pasti. Karna banyak faktor yang harus mendukung sampai pengobatan itu menjadi PASTI. Sama dengan antibiotik yang bisa mengatasi mikroba tapi tidak PASTI. Tergantung ketepatan penggunaaan obat, dosis, cara pakai, jenis antibiotik dan faktor lainnya.

Setiap Pengobatan pasti memiliki target pencapaian mengapa pengobatan itu dilangsungkan. Untuk memahami cara kerja penggunaan Hipnoterapi dalam mengobati kasus-kasus yang tertulis dikartu nama saya, kita harus terlebih dahulu memahami peran PIKIRAN. Karna dari PIKIRANLAHyang nantinya mempengaruhi TINDAKAN kita. Ingat Polanya.

Think -> Feel -> Action

Pikiran Positif akan mengakses Perasaan positif dan itu menjadikan bahan bakar untuk melakukan Tindakan positif pula. Begitu juga sebaliknya. Didalam islam sendiri lebih dulu diajarkan untuk khusnudzon (berbaik Sangka) dibandinkan Su’udzon (berprasangka buruk).

Pikiran Sendiri seperti yang Sudah kita ketahui terbagi atas 2 bagian. Pikiran Sadar (PS) dan Pikiran Bawah Sadar (PBS). (Lihat Gambar). Dan setiap Pikiran memiliki “tugas” yang berbeda- beda. Pikiran Sadar bertanggung jawab atas Analisis, Rasional dan memory jangka pendek sedangkan Pikiran Bawah Sadar bertanggung jawab pada emosi, persepsi, believe, value dan memory jangka panjang. Setiap Pikiran itu sendiri memiliki “kekuatan” yang berbeda dalam mempengaruhi tindakan kita. PS sebesar 12 % dan PBS 88 %. Mari kita lakukan perandaian.. jika ada 12 orang berkelahi dengan 88 orang dengan kekuatan tiap orang sama siapakah yang menang? Jelas yang 88 orang. Begitu jugalah pada pikiran. Jika ada konflik antara Pikiran Sadar dengan Bawah Sadar maka akan dimenangkan oleh Pikiran Bawah Sadar (PBS).

img-1531054038.jpgPertanyaan berikutnya adalah, kapan kita bisa tahu bahwa tindakan kita ini karna pengaruh Pikiran Sadar atau Bawah Sadar?? Didalam ruang praktek saya sering memberikan ilustrasi PS dan PBS itu dengan Jawaban Sadar dan Jawaban Spontan. Jika anda melakukan tindakan dalam kesadaran, artinya anda menggunakan Pikiran Sadar. Misal, saat anda ditawarkan suatu produk dan anda sempat berpikir apakah produk itu menguntungkan atau merugikan maka disitu peran pikiran sadar anda yang lebih dominan bekerja.

Pikiran bawah sadar?? Ketika anda memberikan respond secara Spontan terhadap suatu informasi/Stimulus dan respond spontan itu terjadi dibawah 3’ maka disitulah peran Pikiran Bawah Sadar yang lebih dominan dalam mempengaruhi tindakan anda. Contoh saat anda terjatuh dan reflek mengucapkan makian. Itulah kerja PBS.

Sayangnya, seringkali antara Pikiran Sadar dengan Pemikiran Bawah Sadar tidak selalu selaras. Menurut Pikiran sadar tidak baik, namun menurut pikiran bawah sadar itu suatu kenikmatan. Dengan kekuatan Pikiran Bawah Sadar yang jauh lebih kuat dibandingkan Pikiran Sadar tentu membuat tindakan orang itu mengikuti apa yang menurut PBS.

contoh. Menurut PS rokok itu merugikan karna banyaknya kandungan zat yang beracun. Namun menurut PBS rokok itu Memberikan Kenikmatan. Tentu orang itu akan terus merokok disamping memang kandungan di rokok itu juga ada zat nikotin yang membuat seseorang kecanduan. Menurut saya, peran nikotin itu sendiri tidak begitu kuat mempengaruhi seseorang dibandingkan peran dari Pikiran Bawah Sadar. Coba perhatikan kembali saat bulan Ramadhan lalu.. saat orang yang biasanya kecanduan rokok dan frekwensi merokoknya bisa 2-3 bungkus perhari bisa sama sekali berhenti merokok dari mulai imsak sampai berbuka tanpa sama sekali terganggu dengan efek withdrawalnya.. namun hal ini bisa terjadi bagi orang yang Imannya Kuat ya. Kalau masih sedang-sedang mgkn ada merasakan efek sakaw pingin merokoknya.. kenapa itu bisa terjadi??? Karna bagi orang yang benar-benar beriman, merokok disaat imsyak sampai berbuka menurut Bawah Sadar adalah perbuatan yang membatalkan puasa dan itu adalah perbuatan DOSA sehingga rokok yang biasanya dianggap sumber Nikmat berganti menjadi suatu larangan menurut Bawah Sadarnya. Perubahan yang terjadi dibawah sadar tentu mempengaruhi tindakan orang itu. Yang biasanya pingin merokok menjadi berhenti melakukan kegiatan itu.....SAMPAI berbuka... setelah berbuka?? Ya ngepul lagi. kenapa?? Karna ketika sudah berbuka apa yang terjadi di PBS juga berubah. Bahwa merokok setelah berbuka tidak ada larangannya.

Jelas??? Jadi semua kasus-kasus yang tertulis dikartu nama saya bisa ditangani dengan hipnoterapi. Karna Hipnoterapi sendiri adalah suatu terapi yang menggunakan HIPNOSIS dan HIPNOSIS sendiri adalah suatu Ilmu berkomunikasi dengan PBS. Setiap orang yang memiliki kasus tersebut adalah orang-orang yang tidak mampu mengendalikan Pikiran Bawah Sadarnya sehingga kesannya dia yang menjadi budak akan hawa nafsunya. Jadi kalau ada yang mengatakan kenapa sulit mengendalikan hawa nafsu jawabannya jelas, karna hawa nafsu (EMOSI) itu adanya di PBS dan kita belum punya cara untuk berkomunikasi dengannya. Jadi prinsip terapinya adalah pahami sumber masalah yang terjadi di PBS client lalu komunikasikan dgn Hipnoterapi melalui peran sugesti. Itu makanya seorang Hipnoterapis dalam menangani kasus tersebut Hanya mengandalakan mulut saja untuk digunakan dalam memberikan sugesti.

Mari Kita ambil contoh kasus. Fobia kucing misalnya. Banyak yang heran, mengapa sampai begitu takutnya penderita fobia itu terhadap kucing. Sampai-sampai ada yang pingsan ketika berada didekat kucing. Ya karna menurut Bawah Sadar si penderita tadi sosok kucing itu dipersepsikan adalah sesuatu yang mengancam sehingga timbullah reaksi syaraf simpatis didalam tubuhnya. Maka tidak heran setiap dia mendengar atau melihat kucing yang terjadi didalam dirinya mengalami jantung berdebar, keringat dingin dan pucat. Lantas bagaimana pengobatannya? Dengan Hipnoterapi maka target pengobatannya adalah memberikan sugesti terhadap pikiran bawah sadarnya agar Kucing yang awalnya dianggap berbahaya dan mengancam bisa berubah menjadi sosok imut dan menyenangkan.

Begitu juga untuk kasus trauma, secara tekhnis kerja terapinya mirip. yang membedakan adalah objek yang ditakutinya. Lalu bagaimana dengan pengobatan LGBT atau Kecanduan seperti berjudi, shop aholic atau sampai kecanduan narkoba. Untuk kecanduan target pengobatannya sama. Sama-sama memperbaiki sesuatu yang menjadi persepsi di PBS orang tersebut. Bagi orang yang kecanduan tadi seringkali terjadi karna menurut PBS melakukan kegiatan menyukai sesama jenis, berjudi, belanja atau narkoba adalah suatu kenikmatan sehingga inilah dasar yang menjadi tindakan seseorang melakukan aktivitas tersebut dan hipnoterapi bertujuan untuk memperbaiki apa yang ada didalam PBS orang tersebut.

Bisa sembuh itu berbeda dengan PASTI SEMBUH. mungkin bagi anda yang telah menyimak pembahasan ini tertarik untuk MEMPERDALAM pengetahuan mengenai HIPNOTERAPI. Namun sekali lagi, hipnoterapi bukan Ilmu dewa yang langsung merubah sesuatu dalam waktu sekejap seperti membalikkan telapak tangan..

Berikut ini adalah hal-hal yang membuat mengapa seseorang itu gagal dalam proses HIPNOTERAPI atau dengan kata lain tidak mendapatkan efek perubahan pasca dilakukan HIPNOTERAPI.

1. Client menggantungkan kesembuhan kepada terapi tanpa ikut andil dalam melakukan prosesnya..

ini sering saya jumpai dilapangan.. client datang dengan data dipikirannya ketika dilakukan hipnoterapi itu seperti di TV. Tidur lalu ketika Bangun semuanya sudah berubah/sembuh. Ini yang salah besar. Biasanya saat saya mau menangani Pasien dengan hipno,saya memberikan ilustrasi kepada client.. Jika Anda mau kepraktek saya dengan menggunakan kendaraan anda, apa yang harus dipersiapkan ? Maka dia akan menjawab bahan bakar. Lalu saya tanya, “apa lagi, apakah cukup hanya dengan bahan bakar bisa membawa ke tujuan?? “, dia menjawab “tidak, harus tau dimana alamat bapak”.. benar.. untuk bisa mencapai tujuan, ada dua bekal yang harus dipersiapkan. Pertama pahami bahwa “kendaraan” itu adalah pikiran anda sendiri dan bahan bakar itu adalah sikap optimis, YAKIN, sikap pantang menyerah. Sedangkan yang dimaksud dengan PETA adalah cara untuk sampai ditujuan. Cara inilah yang menjadi Wilayah terapis.. bahan bakar saja tidak cukup untuk mencapai tujuan, begitu juga dengan peta. hanya mengandalkan peta tanpa mengisi bahan bakar pun tak kan membuat client melangkah. Oleh sebab itu dibutuhkan kerja sama antara klient dan Hipnoterapis dalam mencapai kesembuhan. Terapis yang mengarahkan, client yang menjalani. Itu konsep kerjasamanya.

2. Client membatasi kesembuhan dengan waktu yang terbatas..

sering kali client berhenti melakukan proses terapi setelah 2-3 kali pengobatan client namun tidak menemukan perubahan. Memang tidak sepenuhnya ini salah client, krn bisa saja saat proses terapi sang terapis kurang memberikan penjelasan tentang “aturan main” pengobatan atau memang sudah menjanjikan kesembuhan dalam waktu instant.. bagi saya Pribadi setelah 8 tahun menjadi hipnoterapis, awal-awal baru belajar memang memiliki euforia begitu, sini masalahmu, gue atasin dengan Hipno kelar hidup lo.. hehe.. tapi seiring perjalanan waktu serta jam terbang ternyata manusia itu unik seunik sidik jari.. tidak ada penanganan kasus yang sama dengan menggunakan tekhnik yang sama maka akan memberikan hasil yang sama pula.. banyak faktor pendukung dalam pengobatan yang harus terlibat selain tekhnik hipno itu sendiri.. seperti tingkat trust keterapis, kemampuan fokus dan percaya bahwa client datang keterapi untuk mencari cara untuk sembuh dan yang menentukan sembuh ada pada diri sendiri. Jika ini Sudah ada dalam mindset client dalam terapi maka akan mempercepat proses penyembuhannya.

3. Client menganggap proses penyembuhan hanya berlangsung di ruang terapi..

Ini juga anggapan yang salah, tugas terapis sebenarnya adalah penunjuk arah dan clientlah yang menjalani sesuai arah yang diberikan. seharusnya, setelah melakukan proses terapi diruangan, sang terapi juga memberikan latihan kepada client yang harus dikerjakannya dirumah untuk membentuk habit berpikir baru sehingga dapat tertanam di PBSnya. Apakah itu melakukan self hipnosis, atau melakukan kegiatan positif, meningkatkan kegiatan Ibadah, terapi cermin, terapi tawa dll.

Semoga apa yang saya sampaikan dapat memberikan manfaat buat Kita semua. Wassalam