Strategi mengatasinya adalah sebagai berikut:

  • Sadarilah bahwa Anda memiliki kuasa atas diri Anda sendiri. Apakah Anda ingin keluar atau bertahan di tempat kerja Anda? Setiap pilihan memiliki resiko masing-masing.
  • Jika Anda tetap memutuskan untuk bertahan pada pekerjaan itu, maka Anda harus sadari bahwa Andalah yang harus mempersiapkan diri untuk mengatasi resiko bahwa akan berhadapan dengan sikap pimpinan yang diktator. Namun jika Anda memutuskan untuk keluar dari pekerjaan, tentu Anda akan terhindar dari pimpinan yang diktator tersebut. Akan tetapi, resiko lain juga pasti akan dihadapi; tidak ada pekerjaan dan tidak ada penghasilan. Semua pilihan ada di tangan Anda. Tugas Anda adalah menyadari itu dan mempersiapkan bekal mengatasi segala resiko yang harus bakal terjadi.

  • Jika memilih tetap bekerja dengan resiko bertemu dengan pimpinan dikatotor, maka bertanggung jawablah bahwa itu memang keputusan Anda. Dan jika memang sikap pimpinan itu perlu dipermasalahkan, maka segeralah analisis masalah Anda.
  • Temukan sikap yang perlu Anda lakukan. Baik secara eksternal maupun secara internal. Eksternal tentu mengikuti prinsip makluk sosial. Bahwa kebersamaan cenderung mendekat pada kesamaan. Sehingga yang Anda lakukan agar tetap bertahan dan membuat pimpinan Anda senang adalah dengan mengikuti apa yang menjadi keinginan pimpinan. Dengan demikian, pimpinan akan tetap mempertahankan posisi Anda. Bahkan akan memberikan sanjungan atau apresiasi dari pekerjaan Anda.
  • Langkah internal yang dapat Anda pilih adalah dengan menggunakan terapi yang ada. Baik digunakan secara tunggal atau kombinasi dengan berbagai tehnik. Seperti terapi ikhlas, sabar, memaafkan, terapi tegang, terapi tawa, question power, self suggestion dengan relaksasi, pemaknaan ulang, maupun pelampiasan syahwat. Pilihlah yang paling sesuai dengan analisis masalah Anda.