A.Sifat Pikiran

Seperti bahasan sebelumnya, manusia bertindak berdasarkan apa yang ada dalam persepsinya. Persepsi (cara pandang) itu sendiri terbentuk oleh tiga, yakni pada masa kanak-anak, oleh lingkungan dan pengalaman masa lalu. Selain itu ternyata persepsi juga memiliki pola kerja. Saya menyebut pola kerja ini dengan istilah sifat pikiran-perasaan. Melalui istilah sifat pikiran-perasaan inilah kita bisa memahami struktur persepsi dalam membentuk suatu tindakan.

Tentu sifat pikiran-perasaan yang saya jabarkan disini tidak mencakup keseluruhan dari sifat pikiran-perasaan itu sendiri. Akan tetapi, saya ambil hanya sebagian dari yang sangat dominan dalam proses terjadinya stres. 

   Untuk mudah  memahami sifat pikiran-perasaan itu, saya membaginya ke dalam bagian terpisah. Untuk sifat pikiran sendiri, sengaja saya pilah sedemikian rupa agar Anda dapat memahami peran pikiran dalam  pola kerja suatu persepsi. Sifat pikiran itu sendiri terbentuk atas dua kategori besar yakni kondisi netral dan kemelekatan.

 

1. Semua Kejadian adalah Netral, Awalnya 

Kita harus sadari bahwa segala kejadian itu sifatnya adalah netral. Kemudian Pikiran kitalah yang  merubah kenetralan itu melalui 3 hal. Yaitu Pemberikan Arti, melakukan Perbandingan dan pemutaran Film terhadap Kejadian tersebut.

 

a.        Pemberian Arti

 

“Cobalah mengerti semua ini mencari arti,

selamanya tak kan terhenti…”

 

Anda ingat lirik lagu tersebut? Ya, itu merupakan lirik lagu yang populer dinyanyikan oleh Momo-Geisha dan Peterpan. Lagu ini mengantarkan kita pada pendapat tentang sifat pikiran bahwa segala sesuatu adalah netral sampai kemudian diberikan arti, dibandingkan dan difilmkan. Bahkan semua yang tercipta di muka bumi ini adalah netral. 

Pemberian arti ini dapat kita ambil contoh  pada ajang pencari bakat di televisi. Kalau kita amati banyak sekali ajang pencari bakat yang saat ini santer diadakan oleh stasiun televisi. Mulai dari ajang menyanyi, ceramah/pidato, dance hingga akting. Namun yang penting kita perhatikan adalah bagaimana para dewan juri memberikan respons terhadap penampilan para para kontestan. Tentu saja ada yang memuji, ada pula yang mengkritik.

Satu  penampilan  kontestan dapat ditanggapi dengan respons yang berbeda. Hal ini terjadi karena persepsi para juri juga berbeda. Persepsi diambil dari cara mereka memaknai penampilan terhadap apa yang para juri fokuskan.

Ketika saya berangkat kejakarta untuk mengikuti pelatihan Hypnoterapi maupun NLP, saya menginap di kos-kosan. Pada hari itu saya melihat ada kecelekaan yang melibatkan antara sepeda motor dan mobil. Dan malamnya saya bercerita dengan teman kosan. “eh tau gak, tadi didaerah gambir, ada kecelakaan antara mobil dan kereta. Keretanya hancur”. Teman kosan saya menjawab ,” wah kok bisa ya. Seberapa besarnya mobilnya? “. Saya kembali heran. Ya bisa namanya juga mobil dengan kereta ya wajar kalau kereta yang hancur kalau terjadi tabrakan. Ternyata persepsi kami yang berbeda dalam mengartikan kereta. Bagi teman kos yang memang asli Jakarta mengartikan kereta itu kereta api sedangkan saya kereta itu ya sepeda motor.karna itu persepsi yang saya dapatkan dimedan. Bagi orang medan kereta itu sepeda motor. Oalaaahhh. Pantes gak nyambung.haha....

 

Menarik menyimak cerita diatas. Setiap respond berdasarkan persepsi menghasilkan emosi yang berbeda-beda.

Topik inilah yang akan kita bahas di sini yaitu seputar persepsi. Karena kita bertindak berdasarkan  apa yang ada didalam persepsi kita.

Mari kita latihan. Tolong berikan arti sesuai dengan makna kalimat berikut ini!

  1. Menurut Anda, apa arti dari mati lampu?
  2. Menurut Anda, apa arti dari perselingkuhan?
  3. Menurut Anda, apa arti dari pimpinan yang egois?
  4. Menurut Anda, apa arti dari PHK?
  5. Menurut Anda, apa arti dari tokoh agama yang terbukti korupsi?

 

Semua kejadian itu pada dasarnya adalah netral sampai Anda berikan arti. Karena persepsi tiap orang berbeda, tentunya arti yang diberikan juga cenderung berbeda. Pemberian arti ini juga sebagai salah satu cara  manusia dalam memberikan respons dari hukum kehidupan.

Ketika saya bertanya kepada seorang tentang menulis buku, baginya menulis buku tersebut adalah sebuah kartu nama. Sebab, menulis buku merupakan aktifitas yang harus dilakukan oleh seorang trainer. 

Begitu juga dengan saya, agar motivasi saya kuat dan mantab terhadap proses penulisan buku ini, ada dua arti yang saya. Pertama, saya ingin memberikan perubahan besar bagi banyak orang agar hidup mereka menjadi lebih positif. Kedua, sebagai rekam jejak untuk anak-anak saya bahwa buku ini ditulis oleh orangtua mereka.

Disinilah peran pemberian arti atas setiap kejadian. Arti yang kita berikan niscaya akan menimbulkan emosi. Lewat emosi tersebut sebuah tindakan tercipta. Coba perhatikan  beberapa status media sosial yang dimiliki oleh teman-teman kita. Baik itu lewat blackberry massanger, facebook, atau twitter.

Seperti contoh ketika listrik padam. Tak jarang status bernada negatif, cacian dan makian sering terlontar tatkala terjadi pemadaman padam. Disaat yang bersamaan, justru sulit kita temui status positif dari para pengguna sosial media.

Tidak ada salahnya, ketika terjadi pemadaman listrik, Anda dapat memberikan arti seperti ini, “Terima kasih, Tuhan, dengan merasakan padamnya listrik, saya menyadari betapa berharganya cahaya yang menerangi, betapa pentingnya hidup hemat. Dengan begitu, sekiranya listrik kembali menyala saya dapat memanfaatkannya secara maksimal.”  Arti yang Anda berikan akan memiliki emosi tertentu. Sehingga membuat tindakan Anda juga menjadi bermutu.

Ingat kembali rumus kehidupan, kita tidak punya kuasa pada apa yang akan terjadi pada diri kita. Namun kuasa kita ada pada cara kita dalam memberikan respons. Pemadaman listrik dapat saja terjadi baik akibat pohon tumbang, putusnya kabel listrik, atau  pemadaman listrik bergilir yang dilakukan oleh PLN. Respons yang dapat kita ambil adalah memberikan arti secara positif agar tindakan kita juga bernilai positif.

 

 

b.        Memberikan Perbandingan

 

Alkisah, hiduplah seorang petani tua yang bermukim di pinggir hutan. Ia memiliki sawah dan luas dan ladang yang luas. Dalam mengelola sawah dan ladanganya, ia dibantu oleh anak laki-lakinya yang berusia 17 tahun dan seekor kuda jantan. 

Suatu ketika, kuda tersebut hilang tanpa jejak karena lari ke dalam hutan . Maka sejak hari itu bertambah repotlah bapak dan anak ini dalam mengolah ladang dan sawahnya.

 

Pertanyaan 1:

Apakah petani ini merasa rugi ketika kuda jantannya hilang?

Seminggu sejak kehilangan kuda itu, mereka sudah sangat kecapekan bekerja keras, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara derap kaki kuda dari arah hutan. Ternyata kuda jantannya pulang bahkan membawa serta lima ekor kuda liar.

Dengan pengalaman yang mereka miliki tidaklah sulit bagi si petani dan anaknya menjinakkan kelima kuda liar tersebut. Alhasil, kelima ekor kuda itu berhasil dikendalikan untuk membantu mereka membajak sawah dan ladang. Sekarang pekerjaan meladang dan membajak sawah jadi jauh lebih mudah dan ringan dibandingkan saat mereka hanya memiliki seekor kuda.

 

Pertanyaan 2:

Dengan kondisi sekarang ini, apakah kondisi petani jauh lebih menguntungkan?

Pada hari berikutnya, si anak bertingkah sok jagoan dengan mengendarai dua kuda sekaligus sambil berdiri. Tiba-tiba kuda ini bergerak liar dan memelantingkan si anak ini hingga kakinya patah. Akhirnya, si anak tidak bisa membantu bapaknya membajak sawah. Ia hanya berbaring tak berdaya di dalam rumah. Bahkan bapaknya terpaksa harus merawat dan menjaganya hingga membuat pekerjaannya terbengkalai.

 

Pertanyaan 3:

Dengan kondisi saat ini, apakah si petani mengalami kerugian dengan hadirnya kuda-kuda jantan tersebut?

Sebulan anaknya dirawat dan berbaring di rumah, datanglah rombongan pasukan dari pemerintah mengumumkan bahwa semua pemuda sehat berusia 17-25 tahun harus berangkat menjadi wajib militer untuk berperang di wilayah konflik.

Rombongan itu mengambil paksa semua pemuda di desa untuk dibawa ke pelatihan militer, karena kondisi negara sedang berperang melawan negara tetangga.

Namun karena si anak petani sedang sakit, rombongan pemerintah tidak berminat membawanya untuk mengikuti wajib militer tersebut.

 

Pertanyaan 4:

Kondisi si anak yang patah kaki, apakah si petani benar-benar merasa untung?

Keempat jawaban atas pertanyaan diatas sangatlah tergantung dari apa yang menjadi perbandingannya. Saat kudanya pergi ke dalam hutan, dia merasa rugi karena harus dibandingkan ketika dia membajak sawahnya dengan bantuan seekor kuda.

Namun jika dibandingkan dengan hadirnya lima ekor kuda yang bisa dijinakkan, tentu saja ini menjadi sesuatu yang menguntungkan karena tenaga yang digunakan menjadi. Lantas, disaat kaki si anak patah akibat terjatuh saat menunggangi kuda, apakah itu suatu kerugian lagi?

Lagi-lagi, jawabannya tergantung pada apa yang menjadi perbandingannya. Jika dibandingkan dengan penderitaan si anak yang mengalami patah kaki, lalu si anak tidak mampu untuk menolong ayahnya bekerja tentu itu adalah suatu kerugian. Akan tetapi, kalau dibandingkan instruksi pemerintah untuk ikut berperang,  ini kondisi yang benar-benar menguntungkan.

Oleh sebab itu, tentu kita jadi sadar bahwa sesuatu akan dinilai mahal ketika dibandingkan dengan sesuatu yang murah, kebaikan itu ada ketika dibandingkan dengan kejahatan. Kebanyakan orang mengalami stres  karena ketidakmampuannya dalam memilih perbandingan tersebut.

Disaat orang kehilangan harta atau kedudukannya. Mereka mengalami kekecewaan yang luar biasa. Mengapa demikian? Bisa jadi karena mereka membandingkan keadaan; saat mereka memiliki harta dengan kondisi tanpa harta, ketika mereka memiliki jabatan dengan tidak ada jabatan sama sekali.

Artinya, mereka sendirilah yang menciptakan penderitaan tersebut. Ketika mereka abai dalam memilih perbandingan maka disaat itulah sumber masalah akan hadir.

Menurut Dr. Ibrahim Elfiky di dalam bukunya yang berjudul Berpikir Positif, jenis membanding-bandingkan yang dapat menimbulkan konflik terbagi dalam tiga hal, yakni:

  1. Membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. Yang tersering yang menjadi masalah disini adalah keseringan membandingkan kelemahan diri sendiri dan  membandingkannya dengan kekuatan orang lain. Contohnya ketika Anda hanya memiliki rumah kontrakan sedangkan orang lain punya apartemen.   Sesuatu yang dibanding-bandingkan bisa berupa bentuk, keberhasilan, perilaku, pekerjaan dan lain sebagainya. Perbandingan ini menyebabkan Anda merasa kurang dari orang lain dan pada gilirannya akan menyeret Anda pada sikap iri dan dengki. 
  2. Membanding - bandingkan kondisi diri sendiri saat ini dengan kondisinya dimasa lalu. Mungkin saat ini Anda berada dalam kondisi psikologis, keuangan, spiritual, keluarga, sosial dan kesehatan yang lemah. Dan dalam kondisi seperti ini, Anda lantas terpikir akan kondisi anda dimasa lalu yang lebih baik dari kondisi saat ini. Pola pikir seperti ini membuat Anda menderita dan sedih karena kehilangan apa yang pernah Anda miliki dimasa lalu.
  3. Membanding-bandingkan orang tertentu dengan orang lainDalam hal ini Anda memosisikan diri Anda sebagai hakim. Anda menilai orang tertentu memiliki kekurangan dibanding orang lain. Seperti ketika seorang pimpinan perusahaan membanding-bandingkan karyawannya dengan karyawan lainnya.

                   Coba kamu liat kerja si B, apa yang kuminta dikerjakannya, sedangkan kamu kerjanya begitu lama dan lamban, mau kerja gak sih?”

         Orang yang dijadikan objek perbandingan akan merasa rendah diri dihadapan orang lain dan akan melahirkan perasaan dendam baik itu kepada pimpinannya maupun kepada orang yang dijadikan sebagai pembandingnya.

               

                Ada orang tua yang mengatakan Anaknya suka melawan sehingga dia kesal melihat anaknya. Tentu persepsinya karna dia membandingkan sikap sianak dengan anak lainnya yang menurut dengan orang tuanya. Coba bandingkan dengan orang tua yang sudah bertahun-tahun menikah dan mengidam-ngidamkan anak. Bisa jadi baginya sikap sianak bukan dianggap petaka lagi dan berganti menjadi anugrah.

c.         Difilmkan (Realitas Internal)

 

Pernahkah Anda menonton bioskop yang menampilkan pertujukan 3 dimensi. Dimana untuk menonton film tersebut kita diberikan kaca mata 3 dimensi dengan tujuan para penonton lebih “masuk” kedalam cerita aslinya sehingga emosi yang keluar lebih kuat. Saat ini dengan tekhnologi yang semakin canggih sudah ada lagi film 4 dimensi. Dimana tontonan yang diputarkan  semakin  membuat penonton merasakan emosi yang semakin kuat lagi daripada 3 dimensi. Yang membedakan adalah jika pertunjukan 3 dimensi penonton hanya akan dibawa kedalam  cerita melalui 2 panca indra. Yaitu penglihatan dan pendengaran. Sedangkan 4 dimensi. Penonton akan dibawa masuk kedalam cerita melalui 3 panca indra. Yaitu penglihatan, pendengaran dan perabaan yang dalam hal ini melalui tempat duduk yang ikut bergerak. .

Kesannya tekhnologi sangatlah canggih, sebenarnya tekhnologi yang diciptakan itu menyesuaikan kecanggihan yang ada didalam diri kita. Para pencipta tekhnologi telah meneliti bagaimana cara mengaduk-aduk perasaan penonton dengan memainkan panca indera penonton. Semakin banyak panca indra yang terlibat maka semakin kuat emosi yang dirasakan.

Sekarang kita latihan.

Silahkan Anda tonton film apa saja dan perhatikan emosi yang anda rasakan setelah Anda menontonnya. Misalkan film horror maupun film komedi. Jika film horror rasakan emosi ketakutan, kecemasan yang keluar sedangkan jika film komedi rasakan emosi lucunya.

Sudah ? jika sudah coba Anda putar kembali film tadi, atau jika ada film yang baru juga boleh. Jika sudah sekarang coba Anda matikan salah satu jalur masuk emosinya. Misalkan penglihatannya. Silahkan anda hanya mendengar suara difilm tersebut tanpa harus melihat gambarnya ? bagaimana? Apakah perasaannya berkurang  dari yang sebelumnya ? kemudian coba tukar, silahkan anda lihat gambarnya namun jangan dengarkan suaranya. Bagaimana rasanya? Berkurang juga bukan? Begitulah cara mengakses emosi melalui film yang ditonton.

Selain dari film yang kita lihat melalui dunia ekternal, film bisa juga kita ciptakan didalam pikiran kita atau  nama lainnya dunia internal.cara kerjanya hampir mirip. Cuma ada beberapa istilah yang harus Anda pahami sebelum Anda mempraktekkannya.

Film yang ada di dalam pikiran kita terbagi atas empat hal, yakni visual, auditori, kinestetik dan digital auditori (self talk).

               

1.         Visual

         Visual bila diartikan sebagai cara otak kita menandai gambar. Nah, sekarang coba Anda sesuatu yang ada di depan Anda. Seperti buku, dinding, atau orang yang berada di sekitar Anda. Kemudian,  pejamkan mata Anda dan hadirkan kembali gambaran suasana yang Anda lihat tadi. Gambaran yang hadir saat Anda memejamkan mata, itulah yang disebut dengan visual.

 

2.         Auditori

         Sedangkan auditori dimaknai sebagai cara otak kita menandai suara. Dengan kata lain audiotori adalah keadaan dimana kita menghadirkan kembali suara yang pernah terekam di dalam pikiran kita. 

                   Auditori sendiri terbagi ke dalam dua tipe; auditori eksternal dan digital auditori. Auditori eksternal adalah suara-suara di luar diri kita yang dapat kita akses. Seperti mengingat suara atau nasehat orang tua kita beberapa hari yang lalu.

                   Sedangkan, digital auditori yang biasa disebut self talk adalah suara yang keluar melalui kata hati kita. Contohnya, saat  kita hendak bersalaman dengan orang lain, namun ketika itu orang lain itu memberikan tangan kirinya, seketika dalam hati, kita langsung berkata,Ih, gak sopan atau sombong benar ni orang.” Inilah yang disebut dengan self talk.

 

3.         Kinestetik

         Maksud dari kinestetik ialah cara otak kita menandai perasaan dan perabaan.  Contohnya, coba akses kembali momen dimana saat Anda sedang memeluk buah hati Anda. Rasakan kulitnya yang menyatu dengan kulit Anda. Lalu, apa perasaan Anda setelah mengakses pengalaman itu? Nah, seperti itulah film yang termasuk dalam kinestetik.

 

   Film ini pun dalam ilmu NLP (Neuro-Linguistic Programming) disebut dengan submodality dan memiliki cara kerja tersendiri.

 

Visual

Auditori

Kinestetik

Hitam putih/warna

Arah suara

Di mana lokasinya

Dekat / jauh

Internal/eksternal

Apa bentuknya

Cerah/redup

Keras/lembut

Berapa ukurannya? besar/ kecil

Lokasi

Cepat/lambat

Diam/bergerak

Terpisah/terhubung

Tinggi/ rendah

Arah gerakan

Film/diam

Keunikan suara

Terasa ringan/berat

3 dimensi atau flat

 

Intensitas dalam skala 1-10

Gerakan cepat/normal/lambat

 

 

                Sekarang mari kita latih cara kerja submodality ini ke dalam diri Anda!

 

Sekarang pikirkan sebuah pengalamanan paling menyedihkan yang pernah Anda alami. Sudah? Kalau sudah, alami kembali pengalaman tersebut dan cermati submodalitas-nya. Bagaimana kualitas visualnya? Bagaimana pula kualitas audio-nya? Dan, rasakan pula kualitas kinestetiknya.

Misalkan Anda mengakses pengalaman sedih  saat kehilangan orang tersayang. Bagaimana film yang hadir di dalam pikiran Anda sehingga membuat Anda sedih. Coba perhatikan secara visual apakah yang terlihat. Apakah gambarnya cerah atau redup, berwarna atau hitam putih, terus cek sampai bergerak atau tidak di dalam film tersebut.

Selanjutnya perhatikan auditorinya. Adakah suara di dalam film itu? Kalau ada dari mana arahnya, bagaimana kualitas suaranya. Suaranya dari luar atau dari dalam hati (self talk). Misalkan, kata hati itu yang berkata aku gak mau kehilangan dia, terus cek sampai keunikan suaranya.

Lalu, perhatikan kinestetiknya. Apakah ketika Anda mengakses film itu Anda merasa ada tekanan atau beban di tubuh Anda? Jika ada, dimana lokasinya? Apa bentuknya? Berapa ukurannya? Apakah beban itu diam atau bergerak?

 

Perhatikanlah semua. Catat dan bandingkan dengan kualitas pengalaman menyenangkan yang Anda miliki. Tentu Anda bisa melihat perbedaannya, bukan?

Setiap jenis pengalaman dikode oleh otak kita dengan kualitas yang berbeda-beda. Pengalaman baik atau buruk, menyedihkan dan menyenangkan, menakutkan atau menggairahkan, dll. Direpresentasikan dengan kualitasnya masing-masing di dalam pikiran kita. Lewat pemahaman tersebut kita juga dapat mengubah kualitas dari pengalaman yang ada dalam pikiran kita

Nah, sedih atau gembira tentu tergantung dari kode yang kita hadirkan pada film tersebut. Kalau kita ganti kodenya maka perasaannya juga pasti berubah. Caranya cukup sederhana, Anda ganti saja submodalitas yang ada dengan kebalikannya. Misalkan, jika gambarnya cerah gantilah dia menjadi redup, atau jika ukurannya besar ganti menjadi  kecil, suara yang keras dikecilkan suara yang cepat dilambatkan dan suaranya diganti dengan suara pelawak yang punya suara khas. Kalau Anda ingin tau hasilnya, mari coba sekarang!