Pernyataan menarik dari Nelson Mandela yang dikutip dari bukunya John McCai berjudul Character is Destiny, bahwa tidak seorang pun lahir dalam  keadaan membenci orang lain karena warna kulitnya, latar belakang, atau agamanya. Orang belajar membenci, dan jika mereka bisa belajar membenci, mereka juga bisa diajar untuk mencintai. Karena cinta datang lebih alami ke hati manusia daripada lawannya.

Apa yang terjadi saat kita membenci seseorang? Segala pikiran dan emosi negatif akan membelenggu kita.  Muncul keinginan untuk membalas dendam, harapan agar orang yang kita benci mengalami celaka, amarah, cemas, berdebar-debar, sulit tidur, gangguan konsentrasi, dan berbagai kondisi ketidaknyamanan lainnya. Itulah buah dari sebuah kebencian, yang pada akhirnya hanya akan menambah beban penderitaan diri sendiri.

   Pada saat kita membenci dan  mendendam  pada seseorang, pada dasarnya kita mengalami dua penderitaan. Penderitaan pertama kita alami sebagai akibat perbuatan atau peristiwa yang dilakukan oleh seseorang terhadap kita. Penderitaan kedua, reaksi emosional kita terhadap orang yang kita benci hanya akan semakin menambah penderitaan. Amarah, kebencian, dan balas dendam yang kita lampiaskan pada orang yang kita benci hanya akan menyiksa diri sendiri dengan lebih besar.

 

a.        Memaafkan Diri Sendiri

 

Memaafkan atau forgiveness  mempunyai dua makna, yaitu meminta maaf dan memberi maaf. Lawan kata dari forgiveness adalah unforgiveness. yang berarti tidak mau meminta maaf atau memberikan maaf, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.

Tindakan masa lalu yang dianggap oleh diri sendiri sebagai perilaku yang memalukan, yang menyebabkan perasaan bersalah dan berdosa seringkali berusaha ditekan dan dilupakan. Peristiwa traumatis ini akan mengendap masuk ke dalam pikiran bawah sadar. Tanpa disadari, pikiran dan emosi negatif, seperti kecemasan, gelisah, perasaan berdosa, rendah diri, dan rasa takut, mengendalikan hidup kita. Tanpa memaafkan diri sendiri, hidup seseorang akan mengalami gangguan mental. Melalui pertobatan dan memaafkan diri sendiri, perlahan-lahan luka batin akan sembuh.

Kita diingatkan oleh kata-kata bijak Fillipaldi, bahwa memaafkan adalah fokus pada hari ini yang membebaskan kita dari kehidupan masa lalu dan membuka pintu masa depan.

 

b.        Mengampuni Orang Lain

 

Memaafkan orang lain, diri sendiri, dan lingkungan sekitar kita tidaklah mudah. Seseorang sulit memaafkan orang lain karena berbagai alasan, seperti tingkat luka batin yang diderita, sikap pelaku, gengsi, karakter individu yang terluka ( pendendam atau pengampun). Apapun alasannya, tidak memberikan maaf dan meminta maaf menjadi duri dalam batin bagi yang mengalami luka batin.

Dalam tulisannya, Forgiveness, Unforgiveness, Health and disease, Alex dan Carl Thoresen, menyatakan bahwa Unforgiveness (ketidakmauan memberi maaf) dapat dianggap sebagai faktor resiko munculnya sebuah penyakit. Unforgiveness identik dengan stresor kronis.

Memaafkan memiliki berbagai manfaat, baik secara psikologis, kesehatan, dan bisa memperbaiki hubungan dengan orang lain yang sempat terputus. Dalam sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2001, disimpulkan bahwa ada korelasi yang kuat antara tindakan memaafkan dan pengaruhnya bagi kesehatan.

Mereka yang bersedia memaafkan orang lain merasakan kadar amarah, cemas, depresi, rasa duka, sensitif, dan pikiran negatifnya menurun secara signifikan. Tindakan memaafkan memberikan peluang bagi siapapun untuk menyembuhkan luka batin yang dideritanya.

A. J. Clark, seorang pakar biologi selular dari Universitas Arizona menggambarkan komponen neurobiology dari memaafkan:

  • Memori terhadap peristiwa yang melukai batin akan membangkitkan reaksi kecemasan yang berpusat di otak, yaitu amigdala (sebagai pusat emosi dan kecemasan).
  • Kecemasan ini akan memicu respond stres, Flight atau Fight, dengan melepaskan hormon stres kortisol dan adrenalin.
  • Dengan memaafkan, korteks frontal akan menginterupsi respons kecemasan yang dibangkitkan oleh amigdala.
  • Lintasan memori dari korteks dan hipokampus ke amigdala akan dihambat.
  • Memori yang membangkitkan reaksi kecemasan dan kemarahan dapat dihapuskan dari amigdala.

Ada beberapa penelitian tentang efek positif dari proses memaafkan ini. Diantaranya yang terkemuka adalah Standford Forgiveness Project yang diketuai oleh Dr. Fred Lushkin. Kita dapat membaca laman Forgiveness for Good yang ia pimpin, yakni:

  • Telah dilakukan penelitian tentang hubungan antara pelatihan memaafkan dan tekanan darah tinggi. Dipilih 25 partisipan secara acak dan dilakukan intervensi berupa pelatihan memaafkan selama 8 minggu. Hasilnya, sebagian besar partisipan mengalamai penurunan tekanan darah dan meredanya marah.
  • Juga dilakukan penelitian kohort yang melibatkan 259 partisipan. Intervention group diberikan pelatihan selama 6 minggu tentang memaafkan dengan metode dr. Luskhin dari Standford. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Forgiveness Training  dapat efektif menurunkan penggunaan kemarahaan sebagai cara untuk menghadapi stres, menurunkan perasaan stres dan gejala-gejala fisik dari stres.
  • Mahasiswa Standford Univerity berjumlah 55 orang dipilih sebagai partisipan untuk melihat hubungan Forgiveness Training dengan perilaku marah mereka. Semua partisipan telah dipastikan memiliki rasa sakit yang masih belum terselesaikan terhadap seseorang, kecuali rasa sakit yang disebabkan oleh kriminalitas, siksaan fisik, dan seksual. Partisipan dibagi dua kelompok, yaitu kelompok control dan treatment.

          Kelompok treatment mendapatkan pelatihan memaafkan selama 6 minggu dengan durasi 1 jam per minggu. Hasil dari studi ini singkatnya adalah dibandingkan dengan control group  yang tidak mendapatkan training, terjadi perbedaan signifikan pada treatment group dalam sifat pemarah yang diukur menggunakan Trait Anger Inventory-Trait Anger Scale. 15% Treatment Grouph juga mengalami penurunan Angry Reaction pada post test. Dan 20% treatment groups mengalami penurunan state anger atau short term anger.

 

Penelitian-penelitian di atas telah dirilis di jurnal internasional, diantaranya ijornal of Clinical Psycology dan Humbold Journal of Social Relation.

   Tindakan mengampuni dan memaafkan memang membutuhkan proses. Seseorang tidak serta merta bersedia meminta dan memberikan maaf bagi diri sendiri dan orang lain. Memaafkan kadang membutuhkan bantuan orang lain dan kemauan diri untuk meninjau kembali peristiwa yang membuat seorang terluka batinnya.

Kesulitan seseorang untuk memaafkan cenderung disebabkan oleh mitos-mitos yang keliru, seperti:

1.         Memaafkan adalah untuk kepentingan orang yang menyakiti.

2.         Memaafkan berarti melupakan.

3.         Memaafkan baru bisa dilakukan setelah orang itu meminta maaf.

4.         Memaafkan baru bisa dilakukan setelah kita membalas.

5.         Dengan memaafkan, orang itu akan bebas dari dosa.

6.         Memaafkan menunjukkan kebodohan dan kelemahan kita.

7.         Menahan pemberian maaf memberi kita kekuasaan.

8.         Memaafkan akan membuat orang itu mengira kita setuju.

 

Selama Anda meyakini bahwa mitos memaafkan tersebut adalah suatu kebenaran, maka inilah yang membuat Anda menjadi sulit untuk memaafkan. Namun, hal yang benar dan harus Anda yakini tentang proses memaafkan ini, adalah: 


  1. Memaafkan tidak berarti melupakan apa yang telah terjadi.
  2. Memaafkan tidak mengharuskan Anda memberitahu orang lain.
  3. Memaafkan adalah untuk diri Anda, bukan untuk orang yang telah menyakiti Anda.
  4. Memaafkan bukan berarti Anda suka pada apa yang telah terjadi.
  5. Memaafkan tidak berarti Anda suka pada orang yang menyakiti Anda.
  6. Memaafkan tidak berarti Anda mengizinkan atau membiarkan orang lain menyakiti Anda lagi.
  7. Memaafkan berarti Anda tidak lagi merasa marah, tetapi melepaskan beban yang selama ini Anda pikul dan membuat Anda terbebas dari belenggu masa lalu.

 

Proses memaafkan nyaris serupa dengan cara kerja pikiran, yakni manusia bertindak mengejar kenikmatan dan menjauhi kesengsaraan. Selama memaafkan dianggap sebagai sebuah kesengsaraan, kekalahan, atau tidak menguntungkan, Anda dipastikan sulit untuk melakukannya.

Sedangkan jika Anda paham bahwa memaafkan adalah sesuatu yang menguntungkan dan menggembirakan, karena dengan cepat Anda akan terbebas dari masalah, maka Anda pun akan senang sekali memberi maaf kepada orang lain.

Untuk memahami bagaimana peranan  Memaafkan dalam  memberikan efek penyembuhan pada penyakit , saya akan mengajak anda untuk melakukan latihan.

Silahkan tengadahkan salah satu tangan Anda menghadap ke atas (seperti berdoa). Hanya satu tangan saja. Sekarang silahkan Anda ambil sebuah benda apa saja. ( seperti handphone, pena, atau tusuk gigi). Lalu letakkan benda tersebut di atas tangan yang ditengadahkan  tadi. Saat ini, apa yang Anda rasakan? Tentu saja ringan, bukan?

Namun, pertanyaan berikutnya, untuk berapa lama benda itu dikatakan ringan? Semenit? Sejam? Sehari? Seminggu atau jika saya meminta anda memegang benda itu selama setahun tanpa pernah melepaskannya sedetik pun, apakah benda itu masih terasa ringan?

Tentu Anda akan menjawab, tidak! Semakin lama saya memegangnya, benda itu akan terasa semakin berat. Otot lengan Ada akan merasakan efek  dari lamanya memegang benda tersebut. Jika Anda memegang benda tersebut dalam sejam mungkin otot lengan mulai pegal. Jika dilakukan dalam waktu 24 jam  mungkin otot lengan Anda akan terasa keram. Bagaimana jika diminta untuk memegang Seminggu? Sebulan bahkan setahun?

Lantas, mau dibawa kemana permainan ini, ya? Hehe… Sekarang, apa yang harus dilakukan agar rasa keram, rasa berat dan rasa pegal itu hilang? Ya, lepaskan saja benda itu. Pegalnya pasti hilang.

Begitu juga  yang terjadi dalam hidup kita. Pahamilah, Wahai Sahabatku yang Cerdas, bahwa masalah itu tidak ada yang berat. Yang ada hanyalah, apakah masalah itu ingin terus dibawa dalam kehidupan ini atau mau langsung dilepaskan?

Tubuh kita punya limit dalam menanggung beban. Semakin berat beban yang dipikul maka tubuh akan memberikan simptom  berupa keluhan. Sehingga untuk menghilangkan keluhan yang datang adalah dengan melepaskan beban.

Bagi saya, keluhan sakit kepala, perasaan berputar, badan lemah, sakit perut, badan kebas, jantung berdebar, atau sesak napas adalah berbagai keluhan yang sering muncul karena ketidakmampuan tubuh dalam menahan  masalah. Hebatnya lagi, masalah tersebut selalu terbawa dalam  keseharian seseorang dan  tidak mau dilepaskan. Saran yang selalu saya berikan agar keluhan-keluhan itu hilang, salah satunya dengan melepaskan beban. Cara terbaik melepaskan beban adalah dengan memaafkan.

Jika Anda, teman, tetangga, atau keluarga memiliki keluhan fisik yang disebabkan oleh masalah psikis. Maka segeralah memaafkan! Jika masalah tersebut terkait dengan orang lain, maafkanlah orang yang membuatnya bermasalah. Seandainya masalah muncul karena menyalahkan diri sendiri maka maafkanlah diri sendiri.

Menyalahkan diri sendiri bukanlah solusi. Anda harus berusaha memaafkan masa lalu Anda dan hiduplah sebagai pribadi masa depan. Mengambil hikmah dari masa lalu membuat Anda akan lebih berharga di masa yang akan datang.

           

            Berikut ini langkah-langkah yang baik dalam  proses memaafkan!             

  1. Ambil posisi rileks dan cari keadaan yang tenang. 
  2. Akses kembali masalah yang pernah Anda miliki dan dapatkan emosinya. Jika Anda masih merasakan emosinya, itu menandakan bahwa masalah itu masih menjadi beban bagi tubuh Anda. Jadi, jika Anda mengatakan bahwa Anda sudah melupakan, namun ketika diungkit masalahnya Anda masih marah itu pertanda Anda belum melepaskan beban itu dari diri Anda. Jadi tolak ukurnya terletak pada kehadiran emosi. 
  3. Lalu hadirkan orang yang bermasalah  itu tepat di depan Anda. Lihat wajahnya, dengar suaranya dan rasakan sentuhannya (buat skala emosinya sampai sepuncak-puncaknya)Kemudian sadari bahwa apa yang akan Anda lakukan adalah untuk kebaikan Anda sendiri. Anda pun sadar telah mendapatkan pelajaran dimasa lalu dan memutuskan untuk meninggalkan kerugian tersebut lalu berfokus ke masa masa depan.
  4. Setelah itu, maka bayangkanlah, Anda menjabat tangannya sambil mengucapkan, “Mulai detik ini, saya memberikan maaf bagimu. Karena itu adalah yang terbaik bagiku dan kesehatanku. Dan aku tahu bahwa sebenarnya tidak ada yang bisa membuatku marah, kecewa ataupun dendam jika bukan aku yang mengijinkan hal itu hadir di dalam pikiranku. Maka dari itu, aku putuskan (mulai detik ini juga) bahwa aku ingin sehat dan memaafkanmu.” Jika Anda ingin meminta maaf kepada diri sendiri, tinggal ucapkan saja kalimat itu kepada diri Anda sendiri. Akhiri kalimat tersebut dengan mengatakan bahwa Anda mencintai diri Anda.
  5. Rasakan apakah emosi Anda berkurang bahkan hilang atau belum? Jika sudah, maka bayangkan Anda memeluk orang tersebut dan memberikan doa agar orang itu bisa menjalani hidup yang bahagia. Keberhasilan dalam proses memaafkan ini bukan terletak pada emosi negatif yang hilang. Namun Anda dapat menjadikan orang yang dulu Anda benci menjadi sahabat terbaik Anda. Jika belum, coba perhatikan di dalam  pikiran Anda? Apakah bagi Anda memaafkan itu adalah suatu kerugian dan sebelum  membalas maka Anda tidak akan memaafkannya? Sadarilah bahwa yang rugi sebenarnya adalah Anda. Karena terus memikul beban hidup ke dalam tubuh Anda sendiri.
  6. Jika sudah merasakan perasaan plong!’ Silahkan buka mata Anda. Dan rasakan perubahan emosinya.

 

 

Mungkin orang di luar sana tidak mengetahui manfaat maaf-memaafkan di hari lebaran. Orang mengira bahwa perintah Allah hanya diperuntukkan buat Allah. Padahal tidak sama sekali. Menurut saya (dalam buku yang saya pelajari), ternyata segala perintahNya bermanfaat mutlak untuk kita sebagai hambaNya. Inilah tanda kasih sayang yang diberikan Allah kepada seluruh hambaNya. Dan menurut saya ini sesuatu yang luar biasa.

Allah itu Maha Dahsyat, lagi Maha Penyayang. Segala sesuatu yang kita jalankan atas perintahNya seperti solat, puasa, zakat, dan haji adalah untuk kebaikan kita sendiri. Termasuk memaafkan ini sendiri. Untuk itu, masihkah Anda ingin menyimpan dendam dan belum juga mau memaafkan?

Awal mula ketika saya mengikuti pelatihan NLP, guru saya mengatakan bahwa 70 persen penyakit kanker tumbuh subur pada orang-orang yang pendendam. Menariknya lagi, berdasarkan literasi yang saya baca, seperti ebook bertajuk Answer Cancer tentang penyembuhan kanker melalui hipnoterapi, bahwa memaafkan merupakan konsep awal penanganan terapi kanker.

Tentunya suatu kerugian besar bagi Anda tatkala masih menabung benci terhadap mantan kekasih yang pernah selingkuh, kepada atasan yang mengambil hak Anda, kepada orang-orang yang pernah memfitnah Anda, atau terhadap orang yang pernah berlaku kasar kepada Anda.

 Pada konteks ini, saya bukan bermaksud mengajak Anda menjadi orang yang senang diperlakukan tidak adil. Anda berhak mempidanakan orang yang melakukan kekerasan terhadap Anda, Anda pun boleh memarahi orang tersebut. Yang tidak boleh adalah menyimpan dendam yang berefek pada timbulnya penyakit buat Anda.