Dalam kehidupan ini segala kejadian yang terjadi disebabkan oleh dua aktivitas, yaitu:

  1.      Aktivitas Sang Pencipta; hanya Allah yang tahu, apa-apa yang diperbuatNya.
  2.      Aktivitas CiptaanNya;

  •     Aktivitas dari Isi Alam Semesta (sunatullah).
  •     Aktivitas Manusia. 
  •      Aktivitas Jin/Setan.

Ketiga aktivitas yang termasuk dalam aktivitas CiptaanNya ini, bentuk kejadiannya cenderung dapat dipelajari dan diprediksi.

Saat saya menyampaikan hal ini dalam sebuah seminar, ada peserta yang protes kepada saya dan mengatakan kalau semua kejadian ini hanya semata-mata karena Allah (aktivitas Allah). Namun pendapat saya tidak demikian, saya lebih memosisikan diri untuk memisahkan antara pengetahuan yang terbatas ini dengan keberadaan Allah. Ilmu kita tidak akan mampu menjangkauNya. Karena Aktivitas Allah, amat sulit untuk diduga. Maka yang terpenting menurut saya, semua aktivitasNya cukup diimani saja.

Tentu saya setuju kalau akal kita dalam menerima pengetahuan ini punya keterbatasan, namun saya punya pandangan bahwa janganlah engkau mengatakan Allah Maha Besar disaat yang bersamaan engkau pun mengecilkan CiptaanNya. Karna keterbatasan akal inilah saya tidak mampu untuk menakar-nakar apa yang merupakan aktivitas Allah. Saya hanya memampukan diri untuk terus melihat kebesaranNya lewat apa-apa yang telah Allah ciptakan. CiptaanNya punya cara kerja masing-masing. Hanya dari situ saya dapat mempelajarinya.

“Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?”(QS. Ar-Rahman).

Bagaimana kita bisa tahu apa saja sumber kenikmatan yang diberikan Allah jikalau kita tidak mempelajari cara kerja ciptaanNya. Dari cara berpikir inilah maka saya memfokuskan diri untuk membahas tentang segala ciptaanNya. Ilmu pengembangan diri yang saya miliki ini terkait erat dengan ini semua. Saya yakin bahwa ini bagian dari kasih sayang Allah kepada hambaNya.

Manusia sudah dibekali sumber daya untuk menjalani kebutuhan hidupnya bahkan sebelum manusia itu sendiri membutuhkannya. Pemahaman  ini tentulah sangat berbeda dengan pemahaman dunia barat yang menuhankan pengetahuan dan memisahkan pengetahuan dengan Allah. Bagi saya, segala pengetahuan adalah ciptaanNya. Semua itu ditujukan untuk kelangsungan hidup manusia. Maka tentu saja wajib bagi kita untuk mendalami pengetahuan tersebut agar membuat kita semakin bersyukur kepadaNya.

Hukum gravitasi, siapakah yang menciptakannya? Apakah Newton? Bukan! Allah-lah yang  menciptakannya dan  Newton yang menemukan dan memformulasikan  ilmu ini. Tidak ada satu pun ilmu di dunia ini yang bukan karna CiptaanNya. Manusia yang dengan keterbatasannya hanya menemukan, mempelajari prosesnya lalu memberdayakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Berangkat dari pemahaman  inilah maka saya membagi dua aktivitas kejadian yang terjadi di dalam kehidupan ini. Aktivitas pencipta hanya diketahui dan diperbuat oleh Allah semata. Kita sebagai hamba hanya sebatas mempelajari atas apa yang telah Dia ciptakan. Baik itu lewat Al-quran maupun hadits.

Sementara aktivitas ciptaanNya, saya bagi menjadi tiga bagian; aktivitas isi alam semesta, aktivitas manusia dan aktivitas jin atau setan. Ketiga aktivitas ciptaanNya inilah yang dapat dipelajari dan diprediksi lewat berbagai ilmu pengetahuan. Mengenai aktivitas isi alam semesta ini telah diterangkan Al-Quran di dalam Surat Al-Fath ayat 23 yaitu, (Demikianlah) sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada sunnatullah  itu.”

Lalu, apa sebenarnya sunatullah  itu sehingga kita dapat mempelajari dan kemudian dapat memprediksinya? Menurut Ust. Agus Mustofa menjelaskan bahwa sunatullah adalah aturan main alias hukum-hukum yang bekerja di seluruh penjuru alam semesta. Di dalam diri makhluk hidup maupun benda mati.  

Sedangkan aktivitas manusia itu sendiri lebih diartikan sebagai kekuasaan yang diberikan Allah untuk dapat memilih berbagai tindakan yang  dilakukan  dalam kehidupannya. Ini juga serupa dengan pernyataan Allah di dalam QS. Ar-Ra`du ayat 11, yang artinya, “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika bukan kaum itu sendiri yang merubahnya”.

Pada aktivitas jin dan setan ini, saya hanya mampu menyatakan bahwa aktivitas ini memang  nyata adanya dan dapat memengaruhi manusia dalam mengambil keputusan. Namun dikarenakan saya bukan orang yang mendalami  hal tersebut. Maka saya tidak akan menjelaskan prosesnya (bagaimana cara jin dalam mempengaruhi manusia) lebih detil di dalam buku ini. Mengenai prosesnya, Anda bisa merujuk kepada praktisi rukiyah secara lebih lengkap.

Mengenai aktivitas nyata jin dan setan ini, Allah telah ceritakan di dalam Al-quran Surat Al-Araf ayat 16-17, "Iblis menjawab, karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)."

 

1.   Aktivitas Sang Pencipta

Menurut Ust. Agus Mustofa dalam bukunya membonsai islam, seluruh yang ada ini, sebenarnya hanyalah manifestasi dari kehendak. Awalnya, yang ada hanyalah kehendak Sang Pencipta. Dari kehendak-Nya itulah Dia menciptakan  segala sesuatu; ruang, waktu, materi, energi dan informasi. Maka Mewujudlah alam semesta dengan segala isinya sebagai kombinasi dari lima variabel tersebut.

Kehendak Allah dirupakan dalam bentuk kalimat perintah, Kun! Maka, kalimat itu menjadi informasi yang meresap ke seluruh  komponen alam semesta.

Kehendak adalah salah satu ‘sifat utama’ Allah. Dengan kehendak-Nya itu Dia menciptakan. Dengan kehendak-Nya pula Dia menghancurkan. Dengan Kehendak-Nya, Dia memberi rezeki, tapi dengan kehendak-Nya pula Dia menahan rezeki.

Dengan Kehendak-Nya Dia melakukan apa saja yang Dia inginkan; menghidupkan, mematikan, memberi rasa sakit dan menyembuhkan, memberi kebahagiaan dan penderitaan, memberikan kekuasaan sekaligus menjatuhkan, memberikan rahmat tapi juga mudharat, dan sebagainya dan seterusnya. Semua berasal dari kehendakNya.

Dengan memahami hal ini, kita harus selalu bertawakal kepada Allah, menyadari bahwa kita adalah hambaNya yang lemah dan selalu memohon perlindungan kepada-Nya. Agar mendapatkan bantuan dan hidayah dariNya. Nah, disinilah peran doa bekerja.

 

2.            Aktivitas CiptaanNya

2.1   Aktivitas dari Isi Alam Semesta

Disinilah peran ilmu pengetahuan bekerja. Sebagaimana dipaparkan dalam Al-quran, Surat yang pertama diturunkan berisi seruan kepada kita untuk membaca dan belajar.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Rabbmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qolam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-`Alaq: 1-5).

   Ilmu Allah terhampar di seluruh penjuru langit dan bumi. Bahkan langit dan bumi itu sendiri adalah realitas ilmu Allah. Hamparan ilmu Allah itulah yang kemudian dipelajari oleh manusia dalam bentuk sains dan tekhnologi. Sains adalah penguasaan teoritis, sedangkan tekhnologi adalah praktis.

Manusia tidak pernah merumuskan kenyataan. Ya, sekedar memformulasikan realitas. Kemudian memanfaatkan rumusan itu untuk membuat alat-alat yang bermanfaat buat kehidupan manusia.

Banyak diantara umat Islam yang memandang Islam sebagai sebuah doktrin, sehingga harus dibedakan dengan ilmu pengetahuan. Bagi mereka, agama atau Al-quran adalah sebuah kebenaran mutlak yang tidak perlu ditafsiri lagi. Sedangkan ilmu pengetahuan adalah kebenaran relatif yang bersifat Trial dan  Error.

Lantas, kita jadi bertanya-tanya, benarkah agama Islam bersifat indoktrinisasi, dogmatis dan berlawanan dengan  ilmu pengetahuan? Jika bener, mengapa banyak ayat Al-quran justru menyuruh kita menggunakan akal untuk memahaminya, menyuruh meningkatkan ilmu pengetahuan. Bahkan memberikan penghargaan tinggi kepada para ilmuwan. Juga sebaliknya, mengecam orang-orang yang tidak menggunakan akalnya.

“Dan Banyak sekali tanda-tanda (Keberadaan Allah) dilangit dan di Bumi yang mereka  melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya.” (QS. Yusuf:105).

Inilah yang harus kita pahami, bahwa Al-quran dan alam semesta adalah sama-sama sebuah kebenaran mutlak. Karena, memang keduanya adalah ‘ayat-ayat’ Allah yang dihamparkan untuk dipelajari manusia. Berbagai ilmu akan terkuak sedikit demi sedikit seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan peradaban manusia.

Dalam Islam, ayat-ayat Al-quran disebut ayat qauliyah. Sedangkan ayat yang terhampar di alam semesta adalah ayat-ayat kauniah. Keduanya ilmu Allah, yang jika dipelajari akan membuat kita dekat kepada Allah SWT.

Begitu juga dengan para ilmuwan. Jika para ilmuwan mempelajari ayat-ayat kauniyah dengan niat untuk bertemu Allah. Pasti Allah akan memudahkan niat tersebut dan akan mempertemukannya lewat ilmu pengetahuan.

Berikut ini beberapa data tentang para ilmuwan yang masuk Islam karena ilmu pengetahuan yang mereka hubungkan dengan Al-quran, yaitu:

 

 

Maurice Bucaille, Masuk Islam Karena Jasad Firaun


Prof Dr Maurice Bucaille adalah adalah ahli bedah kenamaan Prancis dan pernah mengepalai klinik bedah di Universitas Paris. Ia dilahirkan di Pont-L’Eveque, Prancis, pada 19 Juli 1920. Kisah dibalik keputusannya masuk Islam diawali pada tahun 1975.

            Pada saat itu, pemerintah Prancis menawari bantuan kepada pemerintah Mesir untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun. Bucaille lah yang menjadi pemimpin ahli bedah sekaligus penanggung jawab utama dalam penelitian.

            Ternyata, hasil akhir yang ia peroleh sangat mengejutkan. Sisa-sisa garam yang melekat pada tubuh sang mumi adalah bukti terbesar bahwa dia telah mati karena tenggelam. Jasadnya segera dikeluarkan dari laut dan kemudian dibalsem untuk segera dijadikan mumi agar awet.

            Namun penemuan yang dilakukan Bucaille menyisakan pertanyaan. Bagaimana jasad tersebut bisa terjaga dan lebih baik dari jasad-jasad yang lain (tengkorak bala tentara Firaun), padahal telah dikeluarkan dari laut?

            Bucaille lantas menyiapkan laporan akhir tentang sesuatu yang diyakininya sebagai penemuan baru, yaitu tentang penyelamatan mayat Firaun dari laut dan pengawetannya. Laporan akhirnya ini dia terbitkan dengan judul ‘Mumi Firaun; Sebuah Penelitian Medis Modern’, dengan judul aslinya, ‘Les Momies des Pharaons et la Midecine’.

            Saat menyiapkan laporan akhir, salah seorang rekannya membisikkan sesuatu di telinga Bucaille seraya berkata, “Jangan tergesa-gesa karena sesungguhnya kaum Muslimin telah berbicara tentang tenggelamnya mumi ini.”

            Dia mulai berpikir dan bertanya-tanya. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Bahkan, mumi tersebut baru ditemukan sekitar tahun 1898 M, sementara Al-quran telah ada ribuan tahun sebelumnya.

            Setelah perbaikan terhadap mayat Firaun dan pemumiannya, Prancis mengembalikan mumi tersebut ke Mesir. Namun, ia masih bertanya-tanya tentang kabar bahwa kaum Muslimin telah saling menceritakan tentang penyelamatan mayat tersebut. Dan akhirnya setelah pemikiran panjang, akhirnya dia masuk islam.

 

Jacques Yves Costeau, di Lautan Terdalam Menemukan Islam

Mr Jacques Yves Costeau adalah seorang ahli Oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis yang lahir pada 11 Juni 1910. Sepanjang hidupnya ia menghabiskan waktu dengan menyelam ke berbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton oleh seluruh dunia melalui stasiun tv Discovery Channel.

            Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba Costeau menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur atau tidak melebur dengan air laut yang asin di sekelilingnya. Sehingga seolah- olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

            Fenomena ganjil itu mendorongnya untuk mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah-tengah lautan.

            Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim dan menceritakan fenomena ganjil itu kepadanya. Profesor tersebut lalu teringat ayat Al-quran tentang bertemunya dua lautan (Surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez. 


            Ayat itu berbunyi: “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing”.

            Kemudian dibacakan Surat Al-Furqan ayat 53 : “Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.”

            Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al-quran itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam.

            Costeau pun berkata bahwa Al-quran memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Tak lama, Mr. Costeau memeluk Islam.


Dr. Fidelma O’Leary, 
Menemukan Rahasia Sujud dalam SHALAT

Dr. Fidelma, ahli neurologi asal Amerika Serikat mendapat hidayah saat melakukan kajian terhadap saraf otak manusia. Ketika melakukan penelitian, ia menemukan beberapa urat saraf di dalam otak manusia yang tidak dimasuki darah.

            Padahal setiap inci otak manusia memerlukan suplai darah yang cukup agar dapat berfungsi secara normal.

            Penasaran dengan penemuannya, ia mencoba mengkaji lebih serius. Setelah memakan waktu lama, penelitiannya pun tidak sia-sia. Akhirnya dia menemukan bahwa ternyata darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak manusia secara sempurna kecuali ketika seseorang tersebut melakukan sujud dalam salat.

            Artinya, kalau manusia tidak menunaikan ibadah shalat, otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal.

            Rupanya memang urat saraf dalam otak tersebut hanya memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat otak dengan mengikuti waktu salat.

            Dari penjelasan di atas menyatakan bahwa segala pengetahuan yang mereka temukan telah dijelaskan oleh Al-quran dan membuktikan bahwa segala ciptaanNya itu memiliki cara kerja yang dijelaskan Al-quran.

 

 

Begitulah seharusnya umat Islam menjalankan agamanya. Bukan dengan cara memisah-misahkan antara Al-quran dan Ilmu Pengetahuan. Karena sebenarnya kedua ayat itu saling melengkapi dan saling menjelaskan.

Belajar memahami ayat-ayat qauliyah tanpa paham ayat-ayat kauniyah maka hasilnya akan dangkal. Sedangkan belajar ayat kauniyah tanpa ayat qauliyah akan kehilangan arah. Meminjam istilahnya Einstein, bahwa agama tanpa ilmu pengetahuan bakal lumpuh, sedangkan ilmu tanpa agama menjadi buta.

Dengan memahami hal ini kita harus mengetahui bahwa pentingnya ilmu pengetahuan, selain untuk mendekatkan diri kepada Allah, juga merupakan bagian daripada sebab adanya peristiwa.

Dalam bidang kesehatan, tidak sedikit orang yang merasa gagal ketika mendapati penyakitnya tidak juga mengalami kesembuhan. Usahanya untuk berobat ke dokter telah habis. Bahkan  sudah pun berobat kepada beberapa dokter ahli untuk menyembuhkan penyakitnya namun  hasilnya tetap saja nol. Lalu kemudian, orang tersebut mengatakan bahwa penyakitnya yang dialaminya sudah merupakan kehendak Allah.

Padahal kalau kita kembali kepada pemahaman bahwa segala hal yang sudah diciptakan di muka bumi ditujukan untuk mendukung segala kebutuhan manusia. Maka eskplorasi seharusnya menjadi bagian dari tugas kita berikutnya. Allah menciptakan ilmu pengetahuan dari berbagai hal termasuk dalam bidang kesehatan.

Selain ilmu medis, penyembuhan penyakit bisa saja didapatkan dari berbagai metode seperti pengobatan herbal,  rukiyah,  hipnoterapi, akupuntur dan metode pengobatan lainnya yang juga dapat memberikan efek penyembuhan dari penyakit yang diderita.

Sehingga kalau kita membatasi diri kita pada pengetahuan yang terbatas maka kita juga akan mendapatkan hasil yang terbatas pula.

Allah memerintahkan kita untuk senantiasa berdoa dan berusaha. Dalam hal aktivitas manusia ini kita lebih banyak akan membahas tentang usaha. Dan  untuk wilayah doa, ada lebih banyak buku yang lebih kompeten untuk membahasnya dan silahkan Anda baca buku tersebut lalu kombinasikan dengan buku ini.          

Dengan memahami aktivitas dari isi alam semesta (pengetahuan) maka manusia dapat memprediksi apa yang akan terjadi dari kejadian tersebut. Sebuah prediksi tentu memiliki keakuratan. Semakin tinggi pengetahuan yang dipelajari, semakin tinggi pula tingkat keakuratan prediksi yang bakal terjadi.

 

Setiap kejadian yang prosesnya dapat dipelajari dan diformulasikan oleh manusia, menjadi sebuah hasil/kejadian maka kejadian itu merupakan ilmu pengetahuan dari aktivitas isi alam semesta.

 

Inilah yang terjadi pada seorang dokter. Dimana seorang dokter, berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya, mampu memprediksi kesembuhan bagi pasien yang ditanganinya.  Karna seorang dokter mengetahui proses yang terjadi.  kemudian melalui kemampuan yang dimilikinya ia mampu untuk mengobati pasiennya.

Secara sederhana dapat kita ajukan pertanyaan seperti ini; mengapa manusia bisa menetapkan hukuman mati bagi terpidana narkoba dimana hukuman tersebut mengasumsikan si terdakwa nantinya akan mati setelah dieksekusi? Atau, mengapa bisa terjadi kejadian pembunuhan berencana? Kalau  kita perhatikan pertanyaan tersebut, secara konteks, kedua hal ini sama-sama bisa menyebabkan kematian terhadap targetnya.bagaimana bisa manusia seolah-olah dapat menentukan kematian ?

Ya, jawabannya seperti yang telah saya jelaskan di atas. Bahwa manusia dapat memprediksikan tentang kejadian yang akan terjadi melalui pengetahuan yang ada.

Lewat pengetahuan, seseorang akan mampu membuat orang lain mengalami kematian dengan membuat korban berhenti bernafas, kehabisan darah atau kerusakan organ vital. Hal  ini bisa dipelajari dan diterapkan sehingga bisa menghasilkan suatu kematian. Batasan manusia adalah memprediksi bukan memastikan. Karna kepastian ini mutlak milik Sang Pencipta.

Oleh sebab itu, kemampuan manusia hanya sebatas memprediksi saja. Manusia hanya sanggup berusaha sesuai dengan pengetahuan, pemahaman dan wawasan yang dimiliki. Sedangkan kepastian adalah mutlak miliknya Allah swt. Dalam tataran inilah dibutuhkan kekuatan doa, agar manusia tau bahwa Allah memiliki pengetahuan yang tidak terbatas. Sehingga kalimat bijak pernah menyampaikan bahwa berdoa tanpa berusaha adalah sebuah kebohongan. Sedangkan berusaha tanpa berdoa merupakan kesombongan belaka.

Benar kiranya bahwa knowledge is power; pengetahuan itu adalah kekuatan. Dengan pengetahuan, kita bisa melakukan banyak aktivitas untuk mewujudkan keinginan kita. Penting kiranya bagi kita untuk menyadari bahwa dengan kemampuan yang dimiliki, seorang cenderung tidak akan mudah mengeluh.

Kemampuan tentunya didasarkan pada pengetahuan yang dimiliki. Semakin banyak pengetahuan yang dikuasai maka semakin banyak pilihan dalam  melangkah. Dengan demikian,  segala rintangan tentunya akan semakin mudah untuk diatasi. 

Pada alam  semesta, sebenarnya ilmu pengetahuan itu amatlah luas. Mulai dari pengetahuan tentang kesehatan, tumbuh-tumbuhan, hewan, listrik, bebatuan, cuaca,  kepemimpinan, sosial dan sebagainya. Dari sekian banyak pengetahuan yang ada di muka bumi ini, saya ingin membagikan dua hal penting tentang hukum yang umum terjadi pada alam semesta ini.

Nantinya dengan mengetahui hukum tersebut, kita akan lebih mantap dalam mempersiapkan langkah-langkah agar mudah memprediksi kejadian yang bakal datang dan mengambil solusi atas masalah yang terjadi.

 

2.1.1  Hukum Polaritas

Hukum ini menyebutkan bahwa jika segala sesuatu  itu tercipta, maka kebalikannya juga tercipta.

Seperti contoh, ketika diciptakan kehidupan maka juga akan diciptakan pula kematian,

kepemilikan pasti ada kehilangan, ada pujian ada juga hinaan, sukses berdampingan dengan kegagalan, menang dan kalah, sehat dan sakit, bersama dan berpisah, dan lain-lain.

                               

Hal yang Diinginkan

Hal yang Tak Diinginkan

Hidup

Meninggal

Sukses

Gagal

Pujian

Hinaan

Menang

Kalah

Sehat

Sakit

   Selama kita hidup maka selama itu kita akan mengalami perjalanan kehidupan. Di dalam perjalanan kehidupan  inilah kita akan menjumpai hukum polaritas. Kita akan menjumpai apa yang ada di dalam  tabel di atas. Itulah hukumnya.  Menurut pengamatan  saya maka manusialah yang mengelempokkan mana yang diinginkan dan mana yang tidak diinginkan terhadap kejadian yang datang sehingga saya membaginya menjadi 2 kolom.

Kita tidak bisa hanya mendapatkan apa yang menjadi keinginan kita saja. Sebab, apa yang menjadi kebalikan atas keinginan kita ternyata hadir pula di dunia ini.

Dengan memahami hukum ini maka sebaiknya membuat kita sadar  dan  senantiasa mawas diri. Kita harus semakin ingat bahwa sesuatu yang tidak kita inginkan sebenarnya dekat sekali dengan diri kita. Meski kemudian  para motivator menyebutnya bahwa masalah itu sesuatu yang pasti, sementara penderitaan adalah pilihan kita sendiri.

 

2.1.2.  Hukum Irama

Kapan pun suatu benda berayun ke kanan, benda itu pasti berayun ke kiri juga. Hukum ini menjelaskan kepada kita bahwa apa saja yang tercipta pada hukum polaritas maka kita pasti akan mengalaminya. Oleh karna itu, tugas kita adalah memiliki strategi yang tepat untuk selalu siap dalam menghadapi apa pun keadaan yang terjadi. Baik yang kita inginkan atau pun sebaliknya.

   Selama kita hidup, kita pasti pernah hidup dan akan meninggal. Kita juga akan mengalami pujian dan juga makian silih berganti. Setiap yang kita miliki, lain waktu kita pun akan merasakan kehilangannya. Sesuatu yang kita anggap paling bernilai dalam kehidupan kita saat ini, niscaya kita juga akan berpisah dengannya. Tidak ada satu orang pun yang dapat terhindar dari hukum ini.

Coba perhatikan, berapa banyak orang yang galau berkepanjangan sampai mengalami depresi bahkan gila dan jatuh sakit, ketika tidak siap saat mengalami hal-hal yang tidak dinginkannya. Kehilangan harta, pekerjaan, barang yang paling disayangi, orang-orang terkasih, pasangan hidup, atau mungkin kesempatan berharga lainnya.

Maka dengan memahami hukum ini tugas kita adalah mempersiapkannya. Hal ini bertujuan bahwa segala kemungkinan yang ada pada hukum polaritas akan kita alami.

 

2.2. Aktivitas Manusia

Kehendak Allah-lah yang mengizinkan manusia berkehendak. Di dalam Islam ada istilah yang dikenal dengan Rukun Islam dan Rukun Iman. Adapun rukun-rukun Islam itu ada lima yaitu:

1.         Mengucap kalimat syahadat.

2.         Mengerjakan sholat. 

3.         Membayar zakat.

4.         Berpuasa di bulan ramadan, dan 

5.         Naik Haji bagi yang Mampu.

Dari rukun di atas menunjukkan kepada kita bahwa isi rukun tersebut ditujukan kepada perbuatan manusia. Tidak ada orang dikatakan memeluk islam kalau dia belum mengucapkan syahadat. Disinilah peran dari perbuatan (aktivitas) manusia akan kita bahas lebih detail.

Life is Choice! Ya, hidup adalah pilihan. Ini adalah kalimat yang sangat sederhana, yang sering kita dengar dan kita baca. Namun, tidak banyak diantara kita yang benar-benar memahami lalu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Terkadang  pembahasan mengenai hidup ini pilihan akan ada pertanyaan lalu dimanakah tentang takdir kehidupan?

Mari kita pikirkan beberapa pertanyaaan berikut ini, ketika Allah menciptakan surga dan neraka, apakah di pintu surga dan neraka sudah ada daftar nama yang menerangkan siapakah yang akan memasukinya? Seandainya masing-masing dari kita  telah ditentukan (surga atau neraka) maka untuk apa kita melakukan ibadah?

Seandainya kita sudah termasuk dalam daftar nama di pintu neraka maka semua ibadah yang  kita lakukan pastilah akan sia-sia. Sebaliknya, bila nama kita telah tertulis pada daftar nama pintu surga maka walaupun kita tidak beribadah, kita tetap akan memasukinya.

Sebagian dari kaum  muslim berpendapat bahwa semua yang dilakukan manusia sudah ditentukan dan ditakdirkan oleh Allah. Mereka juga meyakini bahwa ketika mereka shalat, berpuasa, membayar zakat, berzina, korupsi atau membunuh maka perbuatan  ini sejatinya adalah takdir Allah.

Oleh karna itu, dengan pemahaman  seperti ini, akhirnya mereka menjelma menjadi seorang muslim yang menghilangkan kaidah sebab-akibat.

Tanpa sadar, keterbatasan  kita dalam  memahami takdir ini yang sering jadi penyebabnya. Sehingga menganggap semua kegagalan lebih disebabkan oleh kehendak Allah swt.

Ada kisah menarik tentang seorang pencuri yang tertangkap pada masa kejayaan Islam. Sang Pencuri ini tengah diproses oleh seorang hakim. Lalu, si pencuri berkata membela diri.