Eustres

Stres jangka pendek yang memberikan kekuatan. Jenis stres yang bersifat menantang namun  masih bisa dikendalikan. Eustres justru meningkatkan antusiasme, kreatifitas, motivasi dan aktivitas fisik. Contohnya, saat menjelang ijab kabul pernikahan, menjelang persentasi di depan umum, menantikan kelahiran anak atau saat mengikuti kompetisi. Tekanan atau stres yang dirasakan untuk bisa melakukan yang terbaik, semisal untuk bisa juara, inilah yang disebut dengan eustres. Stres tipe ini dikategorikan sebagai stres yang positif.

Stres tipe ini perlu diberdayakan. Tidak boleh dihilangkan. Saya sendiri sering mengalaminya ketika hendak mengisi sebuah seminar. Perasaan stres itu justru membuat saya menjadi lebih prepare, agar dapat memberikan materi secara maksimal.

Lantas, apa jadinya kalau saya hanya cuek disaat hendak mengisi seminar? Tidak ada perasaan stres sama sekali. Hal ini malah yang membuat saya menjadi asal-asalan dalam mempersiapkan materi. Alhasil, seminar yang saya gelar akan membuat peserta menjadi kecewa.

Untuk itu, pertahankahlah stres jenis ini. Selama stres ini membuat Anda mencari solusi dan menambah kualitas diri Anda, silahkan terus berdayakan!

 

Distres

Stres yang dipandang atau dirasa terlalu sulit dan berat untuk diatasi. Kita merasa situasi atau kejadian yang dialami sebagai sesuatu yang membingungkan dan tidak ada harapan untuk mengatasi atau mengubahnya. Contohnya adalah tekanan pada pekerjaan, rumah tangga dimana individu yang stres ini merasa terperangkap ke situasi yang tidak bisa untuk diubah.

Reaksi stres adalah proses psikofisiologis yang merupakan cara tubuh memproses dan melepas tekanan emosi dan fisik yang kita alami dalam  hidup. Dr. Candace Pert, neuroscientist dan penulis buku Molecules of Emotion, menyatakan bahwa diawal penelitiannya ia berasumsi bahwa emosi hanya terjadi di otak atau kepala. Sekarang, dari temuan penelitiannya, ia tahu bahwa sebenarnya emosi ada di tubuh fisik.

Tidak ada seorang pun yang mengalami atau merasakan emosi hanya di-‘hati’ atau di pikiran. Saat seseorang mengalami emosi tertentu, yang terjadi sebenarnya adalah ia merasakan emosi ini dalam bentuk reaksi kimiawi di tubuh dan di otaknya. Reaksi kimia ini terjadi baik di level organ, seperti jantung, lambung, otot-otot besar maupun di level sel. Lambung dan usus sangat sensitif terhadap stres yang disebabkan emosi dan kedua organ ini adalah tempat kita umumnya merasakan perasaan cemas.

Pada posisi inilah stres perlu kita kendalikan. Stres tipe ini cenderung membuat kita merasa kesulitan dan tidak mampu untuk mengatasinya. Sehingga fokus kita hanya pada kejadian yang dipermasalahkan. Bukan pada solusinya. Jika ini dibiarkan berlarut-larut akan menimbulkan dampak negatif pada diri sendiri. Seperti munculnya keluhan fisik atau tindakan ekstrim yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.