Di Suatu pagi menjelang siang, tepatnya pukul 10.00 wib, masuklah seorang laki-laki berusia 52 tahun di UGD RS Swasta dengan keluhan sesak nafas, badan lemah secara keseluruhan, dan setelah di Observasi di Ruang UGD oleh dokter Triase dinyatakan  bahwa kasus ini akan ditangani oleh bagian Neurologi, dan pasien tersebut dibawa keruangan rawat inap dengan penanganan awal saja.  

 


Namun sang ahli neurologynya baru tiba 4 jam setelah si pasien berada di ruangan rawat inap. Setelah sang ahli datang tanpa banyak bertanya hanya mendengarkan apa yang  dikatakan oleh suster melalui status yang sudah tertulis oleh dokter triase sebelumnya, setelah itu  sang neurology pergi keluar dengan mengucapkan beberapa perintah ke perawat untuk  penangan obat dan cairan berikutnya ke pasien.

Lalu istri pasien pun bertanya tentang apa dan bagiamana kondisi si pasien, sang dokter hanya mengatakan “ ya nanti saya kasih resepnya, dimakan aja obatnya, sabar aja ya bu.” Dengan wajah jengkel sang ibu menjelaskan apa yang terjadi kepada sang anak yang saat itu masih kuliah di semester 8 fakultas kedokteran. Dan Allah berkehendak lain. Sang pasien itu pun meninggal pada malam itu juga..

Problem baru pun  muncul. Sang anak tidak terima perlakuan sang dokter karna sama sekali tidak menunjukkan sikap empathy ke pasien  dan sang istri pun mengalami trauma kehilangan suami. Hari-hari sang istri hanya menangis dan melamun, begitulah terjadi Selama beberapa bulan. Dan rasa ikhlas kehilangan itu baru bisa terjadi setelah 3 tahun waktu berlalu setelah kepergian suaminya.

 

Taukah anda siapa anak laki-lakinya itu, benar itu adalah Saya, dr Dinno Rilando dan pasien itu adalah almarhum ayah saya. Saat itu saya mengalami kemarahan yang luar biasa terhadap sang dokter, walaupun saya sadar bahwa perilaku tersebut hanya ada pada “oknum”, bukan dokter secara keseluruhan. Namun saat ini semua sudah berlalu dan menjadi bagian dari masa lalu saya. 

 

Sekarang ini,  Sebagai seorang Praktisi Hypnoterapi yang juga seorang dokter ketika saya melihat masa lalu saya itu dan saya evaluasi, ternyata ada beberapa factor yang membuat saya marah ketika itu:

 

  • Mempercayai segala penyembuhannya kepada orang lain.
  • terlalu menuntut keadaan harus selaras dengan keinginan dan itu tidak terjadi. saya bertemu dengan perilaku dokter yang tidak memiliki empathy, yang  dapat menjelaskan apa yang dialami pasien kepada pasien dan keluarga pasien.
  • melihat kekecewaan dan kesedihan mendalam yang dialami orang tua.

 

Bagi Anda yang merasa hidup selalu bahagia, saat  kehilangan orang dicintai orang-orang disekitar maka Anda akan dengan mudah mengikhlaskan  tanpa trauma, Percaya bahwa ilmu Anda sudah yang terbaik buat Anda maupun keluarga Anda, saya ijinkan agar kiranya Anda BERHENTI membaca tulisan ini.

 

Karna tulisan saya ditujukan buat orang-orang yang :

  1. mempercayai bahwa kehidupan PASTI akan mengalami ketidakpastian/ketidaknyamanan.
  2. yang mau selalu memberikan yang terbaik buat orang lain minimal orang terdekat dalam terbebas dari ketakutan maupun kecemasannya dalam menghadapi penyakit. Atau pun minimal tidak mengalami  seperti yang dialami  ibu saya.
  3. punya paradigma tumbuh, yang selalu mendengarkan pendapat orang lain dan menyaring informasi tersebut sehingga mau mengambil manfaat didalamnya.

 

Setelah saya memutuskan untuk kembali berkarir sebagai trainer di medan, saat itu lah saya baru mengetahui bahwa ibu saya dapat mengikhlaskan kepergian Ayah saya selama 3 tahun. Setelah mendengarkan pernyataan tersebut hati saya sedih, kenapa?? Kenapa sampai 3 tahun lamanya?? Untuk pertama kali belajar hypnoterapi, kasus keberhasilan saya pertama kali menterapi orang melalui pikiran tanpa obat adalah melupakan mantan pacarnya dan saat itu berlangsung 1 sesi dan clear, itu saat saya baru belajar pertama kali, bagaimana dengan sekarang, yang telah menjadi praktisi aktif dan juga trainer hypnoterapi. Dan itu yang menjadikan kesedihan saya muncul, kenapa saya baru belajar ilmu pikiran bawah sadar (hypnoeterapi/NLP) baru sekarang, dimana ilmu-ilmu itu merupakan tool cepat bagaimana mengontrol emosi dalam waktu singkat.

 

Tapi itu adalah sejarah masa lalu, kita tidak dapat merubah sejarah masa lalu, namun kita dapat merubah sudut pandang kita terhadap sejarah masa lalu dan menjadikan emosi kita terkendali.

 

Di Buku The Reconection Healing karya DR Pearl, beliau adalah orang yang punya mindset luar biasa dalam membantu orang lain, disaat mindset orang pada umumnya pengobatan adalah dengan berjas putih, di sebuah ruangan, dengan alat-alat dan obat-obatan sebagai tool terapinya, dia memiliki mindset bahwa dimanapun engkau bertemu orang yang sakit disitulah pengobatan akan dilakukan, maka tidak heran jika dia berpapasan dengan orang yang sakit di jalanan dia menterapi orang tersebut di jalanan menggunakan kemampuan terapi energynya.

 

Ketika ditanyakan oleh beberapa orang kepada beliau, “ apa yang membuat anda berperilaku seperti itu”,beliau mengatakan “ketika saya berjumpa dengan orang lain yang membutuhkan untuk dibantu, seolah-olah saya mendengar Tuhan berkata kepada saya, Hi Pearl, aku percayakan tugas menolong itu kepadamu. Sehingga aku tergerak dengan sendirinya untuk menolong orang tersebut, toh kesembuhan itu tidak di tangan manusia, tapi yang maha Kuasa”.

 

Saya punya mindset “ Jangan batasi ilmumu dengan ilmu yang terbatas ”, bagi saya mempelajari satu bidang ilmu tidak lah cukup. Karna pengetahuan terus berkembang. Saya setuju dengan ungkapan yang mengatakan bahwa “Kebenaran hari ini belum tentu kebenaran dihari esok.

Apa yang saya tuliskan ini menunjukkan bahwa ada hal yang harus dipersiapkan dalam menyikapi hidup ini kalau kita tidak mau menderita karenanya.seperti ungkapan jika kamu gagal mempersiapkan kebutuhan hidup, kamu sedang mempersiapkan kegagalan dalam hidup.

ok guys, silahkan tambah koleksi berpikir anda dengan membaca artikel-artikel yang sudah saya tuliskan di website www.belajarkehidupan.com yang memang tujuannya dibuat agar para pembaca siap memahami kehidupan ini. dan dari artikel-artikel yang di baca, dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas berpikir dalam kehidupan sehari-hari...