Setiap orang merupakan pelaku kehidupan atas dirinya sendiri. Karena memiliki akal pikiran, seseorang bertanggung jawab untuk memilih keputusan apapun yang diinginkan.

Seorang mahasiswi pernah bertanya kepada saya, “Dok, saya  punya teman kos yang suka bicara sesuka hati, sehinga membuat saya sering tersakiti. bagaimana caranya agar saya lebih siap menghadapi hal itu?”

Sekilas terlihat bahwa mahasiswi ini merupakan korban atas perilaku orang lain.. Namun tahukah Anda, apa yang sedang terjadi pada dirinya?

Yang terjadi sebenarnya, mahasiswi tersebut bukanlah korban, melainkan sebagai pelaku utama. Orang lain memang melakukan sesuatu terhadap dirinya. Akan tetapi, persepsi mahasiswi tersebut yang menganggap perbuatan itu sebagai sebuah penderitaan.

Di dalam buku Master Your Mind Design Your Destiny, sang penulis, Adam Khoo, pernah mendapatkan pertanyaan dari peserta yang sedang mengalami kekerasan oleh suaminya.

“Maksud Anda, saya yang minta dipukuli?”

 Lalu, Adam Khoo menjawab, “Tidak, saya tidak berkata begitu, yang saya katakan adalah Anda punya pilihan untuk tetap tinggal atau pergi. Untuk menoleransi kekerasan itu atau membela diri Anda sendiri. Anda harus bertanggung jawab terhadap fakta bahwa Anda memilih untuk tetap tinggal dan membiarkan kekerasan itu berlangsung terus.”

Maka, berhentilah menyalahkan orang lain dan mengganggap diri sebagai korban. Anda dapat memilih untuk membela diri, memilih untuk pergi, atau memilih untuk tetap tinggal. Anda dapat memilih untuk merasa buruk tentang Anda sendiri atau memilih untuk mengambil pelajaran dari situasi ini dan merasa lebih kuat.

Pada saat  yakin bahwa dirinya memiliki semua pilihan ini, wanita itu mulai merasa percaya diri dan memiliki kekuatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Pada akhirnya, wanita itu memilih untuk memberi ultimatum kepada suaminya dan meninggalkannya. Lima tahun kemudian, wanita itu berbahagia dalam pernikahan barunya, dengan memiliki tiga anak yang hebat. Wanita itu juga jadi pengusaha sukses.

“Jika bukan  karena pengalaman itu, saya tidak akan  pernah menemukan keberanian dan kekuatan dalam diri saya untuk meraih semua yang saya miliki sekarang.” Katanya.

Mari simak kejadian di atas. Si wanita tersebut disadarkan oleh sang penulis bahwa dialah pelaku utama dari kesengsaraan yang diperbuat suaminya. Dia yang selama ini memilih untuk tetap tinggal bersama suami yang punya sifat kasar tersebut. Dengan penuh kesadaran, dia memutuskan untuk meninggalkan suaminya dan mengambil alih segala hidupnya.

Kitalah pelaku  kehidupan  ini. Semua yang terjadi dengan perasaan kita mutlak karena apa yang ada di dalam  pikiran kita. Untuk berubah, terlebih dahulu kitalah yang perlu berubah. Agar stres itu dapat teratasi, kitalah  yang  harus merubahnya terlebih dahulu  lewat perubahan cara kita dalam memberikan respons.

Atas dasar rasa kesadaran yang kuat dan penuh tanggung jawab, semua hal itu dapat terealisasi dengan mudah. Berhentilah  mencari  kambing  hitam dan menyalah-nyalahkan pihak lain.

Mungkin Anda berkata, lalu bagaimana dengan orang yang diperkosa, ditabrak lari maupun dipukuli. Bagaimana mungkin mereka dikatakan pelaku? Jelas-jelas mereka adalah korban dari perbuatan orang lain. Dalam konteks kejadian, saya setuju. Mereka memang korban perbuatan. 

Namun mereka tetaplah pelaku  kehidupan  atas dirinya sendiri. Mereka tetap punya kuasa untuk memilih, apakah akan menjadikan kejadian itu sebagai sumber trauma atau bersikap ikhlas untuk kemudian mengambil hikmahnya. Kebahagiaan atau kesengsaraan yang akan mereka alami mutlak berada di tangan mereka sendiri.

Di seminar motivasi, seorang penanya bertanya kepada istri sang motivator, “Suami Anda begitu hebat dalam memberikan motivasi kepada kami. Semangat kami pulih kembali dalam meraih tujuan yang ingin kami capai. Betapa beruntungnya Anda memiliki suami seperti dia, dia adalah sosok impian semua wanita. Pasti Anda bahagia sekali hidup bersamanya.“

Sang istri pun menjawab, “Benar dia adalah suami yang baik, dia bisa memberikan nafkah lahir dan batin kepadaku, penyayang baik kepadaku maupun anak-anakku, perhatian dan juga pelindungku. Namun yang menentukan kebahagiaanku adalah diriku sendiri. Aku mau bahagia atau tidak, sepenuhnya ada di tanganku. Dia hanyalah pendukung kebahagiaanku. Sehingga, aku sudah mempersiapkan seandainya dia tidak memberikan apa yang selama ini diberikannya. Aku akan tetap bahagia. Karena sumber kebahagiaanku ada pada diriku, bukan pada dirinya.”

Boleh saja kita mendapatkan kebahagian dari apa yang diberikan orang lain. Hanya saja, jangan  jadikan hal itu sumber utama kebahagiaan Anda. Cukup jadikan itu sebagai pendukung saja. Seandainya suatu saat orang tersebut tidak lagi memberikan apa yang pernah dilakukannya, kita telah mempersiapkannya terlebih dahulu agar tidak timbul stres dikemudian hari.

 

Outcome yang dirasakan

Cara Bertanggung Jawab

Stres akibat putus dengan kekasih. Hal ini terjadi karena dia ketahuan selingkuh.

Sayalah yang bertanggung jawab atas hal ini. Kejadian ini terjadi karena saya menganggap bahwa dia adalah orang yang terlalu bernilai dalam hidup saya.

 

Karna itu, saya harus belajar agar tidak selalu bergantung kepada orang lain dalam memberikan kebahagiaan.

 

Stres karena di-PHK.

Sayalah penyebab terjadinya stres tersebut maka saya juga yang harus bertanggung jawab. Saya terlalu bergantung kepada tempat saya bekerja. Saya sadar bahwa perusahaan hanya akan mempertahankan pegawai yang dianggap sebagai aset.

 

Artinya, itu pelajaran buat saya. Nanti kalau saya bekerja di perusahaan yang baru, saya akan memperbaiki kinerja menjadi lebih baik. Hingga perusahaan akan menganggap saya sebagai aset yang terus dipertahankan.

 

Stres karena tidak lulus ujian.

Sayalah penyebab ketidaklulusan ini. Harus bertanggung jawab atas hal ini. Upaya saya dalam belajar belum maksimal.

 

Pada waktu yang akan datang, saya harus memperbaiki cara belajar saya dan menjalin hubungan yang lebih baik dengan para penguji.

 

Pengeluaran lebih besar dari pemasukan. Mengakibatkan saya menjadi stres.

Kesalahan ini memang ada pada saya. Stres ini pun harusnya dapat saya kendalikan. Saya harus memiliki manajemen keuangan yang baik. Agar pengeluaran saya tidak lebih besar daripada pemasukan yang saya terima.

 

Stres menghadapi komplain pelanggan.

Komplain dari pelanggan bagian dari resiko kerja. Saya harus sadari itu. Saya yang telah memilih untuk bekerja seperti ini. Itu sebabnya, menyalahkan pihak yang  komplain bukanlah solusi agar pekerjaan ini berjalan dengan baik.

 

 

Beberapa contoh di atas menunjukkan bahwa kitalah pelaku stres yang sebenarnya. Sehingga ketika kita menyadari hal tersebut, upaya agar kita terbebas dari stres ada pada kita sendiri. Perlu dibedakan antara bertanggung jawab dengan menyalahkan diri sendiri. Bertanggung jawab menandakan Anda mengambil alih keputusan dan tindakan yang akan dibuat, menyalahkan diri sendiri membuat Anda semakin terpuruk dan menderita.

Seandainya sikap kita hanya menyalahkan kejadian di atas; aku sedih gara-gara putus dengan pacar, gara-gara di-PHK, atau gara-gara tidak lulus ujian maka cara yang pasti dipilih untuk terbebas dari stres adalah menunggu.

Menunggu agar sang pacar mau meminta maaf dan berjani tidak mengulangi perbuatnnya, menunggu seandainya perusahaan menghubungi dan mengatakan pembatalan PHK,  atau menunggu pihak penguji untuk merubah nilai Anda agar lulus ujian. Mungkin saja peluang itu ada, tapi menunggu tetap menunggu. Kuasa perubahan ada di pihak orang lain. Bagi saya, menunggu itu pekerjaan yang amat melelahkan.apalagi tanpa kepastian. Capee deh!!!

Untuk itu, jika stres ingin lekas teratasi, solusinya adalah ambil kendali atas diri Anda sendiri. Anda yang paling berhak memegang penuh kendali hidup Anda. Berhentilah menyalahkan keadaan. Ambil kembali kuasa perubahan itu ke tangan Anda.

Saya selalu mengistilahkan bahwa hanya orang bodoh yang memberikan kunci rumahnya kepada maling. Sehingga dengan mudah maling tersebut dapat mengobrak-abrik isi rumah. Begitu juga dengan orang yang menyerahkan kunci emosinya kepada orang lain, sehingga orang lain mampu mengobrak-abrik emosinya.

Kesulitan keberhasilan terapi  stres adalah jika kita tidak mampu menerapkan langkah pertama ini, masih banyak mindset disekitaran kita yang menyatakan jika ada kesalahan dari perbuatan seseorang  maka harus dihukum  maupun  dibalas, sebelum itu tercapai maka kesalahan orang itu belum terampuni. Itu makanya selama masih banyak alasan untuk menyalahkan orang lain, menjadikan orang lain sebagai penyebab dirinya stres maka jangan harap untuk dapat terbebas dari stres.

Perlu saya tekankan bahwa langkah terpenting dalam  mengendalikan stres ada pada langkah pertama  ini. Coba Anda bayangkan, sebaik apapun  tehnik yang Anda tawarkan dalam berhitung cepat, tidak akan bermanfaat selagi orang tersebut tidak merasa berguna untuk mempelajarinya.

Begitu juga dengan pengendalian stres ini. Nantinya ada banyak tehnik yang akan saya bagikan. Semua tehnik akan bernilai ampuh selama Anda merasa penting untuk melakukannya. Anda merasa harus bertanggung jawab atas perubahan yang ada pada diri Anda. Kalau sudah demikian, maka stres dengan mudah akan dapat Anda kendalikan.

Jadi, ketika Anda telah memiliki rasa tanggung jawab, ketika muncul kejadian yang tidak selaras dengan  keinginan , Anda akan berkata, ”Baiklah! Kejadian ini sudah terjadi. Lantas, apa yang akan saya lakukan berikutnya untuk tetap memberdayakan diriku?”. Fokus Anda kepada cara merespons, bukan pada kejadiannya.

 

Setiap orang adalah pelaku dalam kehidupannya, dialah yang sepenuhnya bertanggung jawab akan kehidupannya karna dengan akalnya setiap manusia diijinkan untuk memilih apapun keputusan yang diinginkan.

a dr. Dinno rilando b.