Seperti yang telah dibahas pada bab yang lalu, manusia adalah makhluk pencipta makna. Manusia

bebas memberikan  makna apapun dari kejadian yang dihadapinya. Namun adakalanya 

makna yang diambil  dapat menjadi penyebab timbulnya stres terhadap dirinya sendiri.

Pemaknaan ulang ini merupakan suatu cara dalam memberikan makna baru untuk mengganti makna lama yang menimbulkan emosi negatif. Ingat, kita hanya berespons pada makna yang kita berikan. Jika respons kita negatif, yang muncul justru emosi negatif pula. Begitu juga sebaliknya.

Mari kita kembali kepada rumus kehidupan yakni E+R=O. Kita tidak dapat merubah kejadian yang sudah terjadi. Yang dapat kita lakukan adalah merubah makna terhadap kejadian yang ada.

 

Kejadian (event)

Makna Lama

Makna Baru

Ditinggal Pasangan

Dia pembohong, tidak setia

Di masa depan, Allah menyiapkan saya penganti yang lebih baik.

Tugas pekerjaan yang tiada habisnya

Bekerja disini, sepertinya, saya hanya memang untuk diperintah-perintah saja.

Pimpinan tidak akan mungkin memberikan tugas kepada orang tidak memiliki kemampuan. Artinya, beliau memercayai kemampuanku.

Bos yang terlalu sering menegur

Bos itu arogan

Sebenarnya bos memberikan perhatian besar kepada saya karena ia tahu bahwa saya dapat diandalkan.

Mengalami pemutusan hubungan kerja

Keuangan berhenti, anak/istriku  bakal merana

Di tempat lain, Tuhan sedang menyiapkan rejeki yang lebih baik untukku dan tugasku adalah mencarinya.

Tidak lulus ujian

Aku memang bodoh

Mungkin inilah cara Allah mendidikku, agar aku lebiih giat lagi dalam belajar dan menyiapkan materi lebih maksimal.

Beberapa contoh di atas dapat diterapkan dalam berbagai kejadian yang kita hadapi, Akan tetapi, makna yang diberikan  tidak mesti harus sama dengan yang saya tulis di atas. Jika Anda memiliki makna lain yang lebih pas dan membuat perasaan stres Anda menjadi berkurang atau hilang, maka gunakan saja makna tersebut.

Ketika seminar berlangsung, seorang peserta membagi pengalaman hidupnya dalam  bentuk pemaknaan ulang yang menarik. Ia pernah kehilangan uang sebanyak Rp.80 juta karena tertipu dengan orang yang dia percayai. Awalnya, ia memaknai kejadian bahwa Saya dibohongi, kok tega sekali dia berbuat seperti itu kepada saya. Kenapa saya begitu percaya pada dia? Bodohnya saya! Makna itu yang terus berputar di dalam pikirannya. Ingin rasanya mengambil kembali uang itu, namun  keberadaan orang tersebut seperti lenyap ditelan  bumi. Tidak ada jejak sama sekali. Semakin dia maknai kejadian itu dengan cara yang sama, maka semakin menyakitkan buatnya. Timbul stres berkepanjangan sampai proses perubahan makna dilakukannya. Apa yang dilakukannya?

Dia memaknai uang yang hilang itu sebagai sebuah  investasi asuransi kesehatan ke Allah. Dia mengatakan, Bagiku sekarang uang itu adalah cara Allah untuk menghindarkan aku dan keluargaku dari marabahaya dan  penyakit kritis”. Setelah dia mengganti makna kejadian itu dengan makna yang baru maka perasaan ikhlas perlahan-lahan muncul di dalam hati dan pikirannya. 

Ketika Anda mengalami stres yang (mungkin) disebabkan oleh kekeliruan Anda memilih respons, cobalah introspeksi ke dalam diri tentang makna apa yang telah Anda berikan tersebut. Setelah itu baru lakukan penggantian makna baru yang lebih positif dan memberdayakan. Kenikmatan akan dikejar, kesengsaraan akan dihindari. Itulah cara kerja emosi. Sehingga berikanlah makna dari sebuah kejadian menjadi sebuah kenikmatan atau keuntungan. Kejadian yang sebelumnya dirasa merugikan atau menyengsarakan akan segera terganti.

Pemaknaan ulang juga dapat dikategorikan dalam proses merubah perbandingan. Dengan cara kerja yang sama, perbandingan yang semula memunculkan perasaan tersiksa dapat terganti dengan suatu yang membanggakan.

 

Kejadian (event)

Perbandingan yang Menimbulkan Stres

Perbandingan yang Membebaskan Stres

Pimpinan memberikan banyak tugas

Pemimpin yang dulu tidak sebanyak ini dalam memberikan tugas. Pasti pimpinan yang sekarang benci denganku.

Yang dulu tidak mempercayai kemampuanku, dan yang sekarang mempercayai, akan saya bayar kepercayaan itu dengan melakukan yang terbaik.

Kematian pasangan

Dari dulu dialah yang selalu memberikan kasih sayang kepadaku, sekarang dia tidak ada? Aku tidak bisa hidup tanpanya.

Dulu aku terlalu bergantung kepada manusia sehingga melupakan bentuk kasih sayang dariNya. Sekarang, aku harus ikhlaskan kepergiannya. Karena aku tau kasih sayang yang sebenarnya yakni hanya dari Allah dan sekarang aku belajar memahami itu.

Anak  yang tidak patuh dengan orang tua

Anakku bandel sekarang, suka melawan. Padahal dulu dia termasuk anak yang penurut.

Sebandel-bandelnya anak, tetap harus disyukuri. Karena diluaran sana masih banyak orang yang tidak memiliki anak. Anak adalah harta yang tidak ternilai. Saat ini komunikasi kami  harus lebih diperbaiki.  

 

Agar proses pemaknaan ulang dapat bernilai positif dan mudah diterapkan, berikut ini prinsip utama yang Anda perhatikan, yakni:

  1.    Memikirkan keuntungan yang diperoleh orang lain dari kejadian yang kita alami.dan kita juga merasakan manfaatnya. Seperti contoh, ketika Anda sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Maka maknai dengan, “Mungkin ini cara Allah memberikan rejeki untuk pegawai di rumah sakit ini”. Jadi, dengan memaknai demikian seolah keduanya meriah manfaat yang sama. Orang lain mendapatkan keuntungan dari uang kita dan kita juga dapat bersedekah melalui penyakit yang kita alami. 
  2.      Memikirkan keuntungan yang diperoleh diri sendiri. Seperti contoh,  saat kita sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Maka maknai dengan, “Saatnya tubuh ini beristirahat dari segala aktivitas yang padat.”