Adapun Sikap orang yang menyebabkan stres yaitu :


a.        Membatasi Ilmu

Tidak ada seorang pun yang mengeluh pada apa yang dia kuasai. Orang yang mengeluh adalah pasti tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya. Dengan kata lain, beban yang dihadapi jauh lebih besar dari kemampuan yang dimiliki. Sikap yang tepat terhadap ini seharusnya tidak membatasi diri terhadap ilmu pengetahuan. Sebab, orang yang memiliki pengetahuan terbatas akan mendapatkan hasil yang terbatas pula.

Guru saya pernah berkata bahwa orang yang mengeluh adalah orang yang menganggap masalah atau beban itu menimpa dirinya. Sedangkan, bagi orang yang ahli akan menyikapi dirinya lebih besar dari masalah atau beban sehingga dapat menginjak beban tersebut.

Seorang pengacara pasti akan mengeluh jikalau dia diminta untuk menjaga unit gawat darurat di rumah sakit. Tentu karena sang pengacara tidak memiliki kemampuan untuk mengobati penyakit apalagi untuk kasus emergency yang harus ditangani dengan cepat, tepat dan akurat.

Lalu, bagaimana kaitannya dengan keterbatasan ilmu dapat menyebabkan stres? Orang yang berilmu adalah orang yang memilih banyak pilihan dalam memilih respons dari setiap masalah yang dihadapi. Sehingga berhasil mendapatkan hasil (outcome) yang terbaik.

Itu sebabnya, setiap orang ketika sakit selalu diobati oleh dokter, bukannya montir. Dibanding montir, dokter mempunyai banyak kemampuan dalam memilih respons ketika mengatasi penyakit sehingga diprediksikan dapat menghasilkan kesembuhan bagi pasien.

                Orang yang tidak memiliki kemampuan memaafkan, melihat kejadian dari sudut pandang yang memberdayakan (focus,memberi arti,memberi perbandingan), memberdayakan emosinya, menganalisa masalah pasti akan mengalami kegelisahan dalam hidup dan buku ini akan mengajak kita untuk mendalami tentang kemampuan dalam mengatasi permasalahan kehidupan.           Begitu juga bagi orang yang tidak mengetahui cara kerja-pikiran dan perasaannya termasuk tidak mengetahui apa yangmerupakan kemelekatannya sehingga membuatnya mudah tersinggung pasti akan mempermudah seseorang mengalami stres.

 

Orang yang memiliki pengetahuan terbatas

akan mendapatkan hasil yang terbatas pula

 

b.        Terlalu Menuntut

 

Seseorang yang terlalu menuntut kepada orang lain agar berpikir dan bertindak sesuai dengan kemauannya cenderung lebih mudah stres. Keadaan ini membuat seseorang akan mengalami banyak kekecewaan. Karena bisa jadi, apa yang dituntut tersebut tidak sanggup dipenuhi oleh orang lain. 

“Hei, sebagai pimpinan harusnya kan lebih mengerti mengenai pekerjaan bawahannya. Jangan main marah-marah saja.”

“Suamiku ini harusnya mengerti kalau hari ini aku berulang tahun, masa gak ada kado spesial buatku?

“Harusnya kan papaku tau, aku ini sudah bisa besar. Aku mampu menjaga diri sendiri. Mau keluar malam aja gak dibolehin. Huh, dasar!

Ini adalah beberapa keluhan yang sering dialami penderita stres, karena memiliki tuntutan yang besar kepada orang lain. Berharap agar orang lain berpikir dan bertindak seperti kita pikir, ada kalanya memang baik. Namun ketika harapan tersebut berharapnya sampai pada taraf menuntut, disinilah timbulnya masalah.

Makna ‘menuntut’ memang cenderung diartikan negatif. Dalam ‘menuntut’ orang biasanya menginginkan sesuatu yang berlebihan. Harus persis sama sesuai atas apa yang diinginkan. Padahal kuasa atas kejadian tersebut ada ditangan orang lain. Tentunya, orang lain juga punya hak untuk ikut atau menolak keinginan itu.

 

c.         Menyalahkan

 

Menyalahkan dapat menyebabkan perpecahan. Tidak ada orang yang suka dipersalahkan, semua orang menganggap dirinya benar. Inilah awal timbulnya stres.

Alphonse Gabriel Capone (1899-1947), yang kita kenal sebagai al capone, gangster legendaris yang paling sinis dan pernah menjadi musuh rakyat amerika nomor satu, bahkan tidak menyadari bahwa dirinya adalah orang jahat. Dalam ucapannya, ia berkata,Di tahun-tahun terbaik dalam hidup saya, saya telah lalui dengan menyenangkan orang lain, membantu mereka agar menikmati waktu mereka sebaik-baiknya. Tapi yang saya peroleh adalah kesewenang-wenangan dan kenyataan sebagai buron.”

Padahal ia dan kelompoknya telah menewaskan ratusan orang dan menggemparkan Chicago waktu itu, namun pada kenyataannya ia menganggap dirinya sebagai orang yang berbuat kebajikan untuk masyarakat di sekitarnya. Pelindung rakyat yang tidak dihargai dan dimengerti.

Terlambat menjemput, lupa dengan tanggal ulang tahun, pasangan tidak memberikan apa keinginannya atau tidak setuju dengan pendapatnya adalah beberapa contoh kejadian yang bakal berujung dengan menyalahkan. setiap orang tidak suka disalahkan, sikap menyalahkan tersebut pasti akan mendapatkan perlawanan. Alhasil, akan berujung kepada konflik. Konflik seperti juga termasuk dalam awal timbulnya stres.

Jadi, apakah kita tidak boleh menuntut dan  menyalahkan? Jawabannya, bisa iya dan bisa tidak. Yang dimaksud dapat menimbulkan stres, bukan terletak pada boleh atau tidaknya. Melainkan, apakah dengan begitu (menuntut dan menyalahkan) stres bakal terjadi atau tidak? Jadi, boleh saja Anda menuntut dan menyalahkan asalkan Anda telah memiliki memampuan dalam menghadapi perlawanan.

Selama Anda telah mempunyai kemampuan mengatasi perlawanan, dari orang yang dituntut dan disalahkan, silahkan Anda lakukan hal tersebut. Namun jikalau belum memiliki kemampuan untuk mengatasi perlawanan, malah akan memperuncing stres, sebaiknya hindari sama sekali.

 

d.        Egois

 

Sejak kita lahir, sifat egois ini telah kita miliki. Yaitu sikap (kelakuan) yang mementingkan diri sendiri atau menganggap diri sendiri lebih penting daripada orang lain. Hal tersebut dapat terlihat saat kita baru lahir. Apapun yang kita lakukan semuanya berdasarkan apa yang kita butuhkan. Saat menangis, diartikan oleh orang sekita kita sebagai tanda bahwa kita sedang, lapar, haus, takut, buang kecil dan orang lain harus menyiapkan apa yang kita butuhkan tersebut.

Sifat egois yang saya maksudkan menimbulkan stres disini  adalah Merefleksikan segala kejadian buruk akan dialaminya

Contohnya :

- Mendengar berita kematian takut karna merasa dirinya akan mengalami.

- Melihat berita kecelakaan timbul takut karna merasa dirinya bakal mengalami.



e.         Berpikir Negatif

 

Apa yang akan terjadi jika kita ingin melangkah ke depan namun nyatanya kita malah bergerak mundur ke belakang? Apakah yang akan terjadi, jika kita ingin tertawa namun kita malah memutar film horor ? Kalau hal itu terjadi, tujuan kita tidak akan pernah tercapai. 

Pikiran kita akan mengakses perasaan, kemudian perasaan tersebut akan  menghasilkan tindakan.  Ketika kita berpikir positif, maka yang terakses adalah emosi yang positif. Selanjutnya, tindakan yang dipilih adalah tindakan yang positif. Begitu juga sebaliknya. 

Nah, orang yang sering berpikiran negatif tentunya akan membuat perasaan dan tindakannya menjadi negatif pula. Sesuatu yang negatif inilah penyebab timbulnya stres.

     Setiap kejadian diartikan menjadi sesuatu yang negatif, atau dibandingkan dengan sesuatu yang ujung-ujungnya menakutkan buat dirinya maupun memutar film horor sebagai caranya merespon  kejadian yang datang, hal itu pastilah akan membuat orang ini sebagai penderita distres.dan jika tidak disikapi dengan bijak, akan memperparah keadaannya.

     5 sikap yang saya jelaskan diatas adalah pegangan kita dalam menilai Cara kita mempermasalahkan kejadian yang ada. Karna dari sanalah segala emosi negatif itu timbul.