Saya teringat ucapan teman saya saat kuliah tingkat satu dulu. Din, Kenapa sih laki-laki suka banget nonton Bola. Masa 1 bola dikejar-kejar 22 orang. Sampai patah kaki lagi. Apa sih enaknya? Pernahkan anda mendapat pertanyaan yang sama ?

Cerita kedua. Maaf bagi yang perokok. Ketika Koas , saat itu saya sudah stop merokok. Mungkin karena kesal sama dosen penguji, kawan saya curhat ke saya.” Apa sih hebatnya Prof itu. Katanya professor, tapi merokok. Anak SD yang pandai baca aja tahu apa yang tertulis dikotak rokok. Rokok dapat menyebabkan kanker , bla..bla..bla..Masa sudah professor pun tetap merokok. Apa dia gak bisa baca? Sebenarnya yang harusnya Profesor itu ya anak SD, kenapa harus dia.

Apa yang bisa kita pelajari dari kedua  cerita diatas?  Yaitu FOKUS.  Manusia adalah makhluk pencipta makna. Sehingga dalam sebuah kejadian. Kita bisa menciptakan makna yang berbeda-beda. Tergantung fokus yang kita arahkan. Emosi yang dihasilkan juga  tergantung pada  Apa yang kita FOKUSKAN.

Kawan Kuliah saya tadi memfokuskan arti bermain Sepakbola dari sebuah bola yang diperebutkan 22 orang dilapangan. Sedangkan menurut saya FOCUS saya mengartikan sepakbola adalah bagaimana PERJUANGAN sebuah tim maupun individu dalam mengalahkan tim lawan.  Perhatikan perbedaan antara arti yang saya ciptakan dengan yang diciptakan teman saya. Jelas terjadi perbedaan emosi. Padahal apa yang dibicarakan adalah sama Yaitu SEPAKBOLA.

Untuk Cerita yang kedua juga berlaku hal yang sama. Apa yang difokuskan kawan saya adalah sifat BURUK dari sang Profesor. Sehingga dia bisa mengatakan kejelekan tentang sang professor. Apakah sang rofesor seburuk itu. Jelas tidak. Untuk urusan ilmu pengetahuan. Sang professor begitu dihargai. Pengetahuannya merupakan acuan buat para ppds, anak koas dan juga pasien yang berobat dengannya. Disini kita bisa ambil pelajaran bahwa untuk satu cerita  professor saja, bisa terdapat 2 maknya dan 2 emosi.

Teman-temanku yang Cerdas. Emosi tergantung dari focus anda dalam memaknai sebuah kejadian. Dan yang harus kita pahami, tiap orang bisa berbeda-beda dalam memfokuskan  arti dari kejadian.
Mari kita ambil contoh. Untuk seorang ACENG (bupati Garut ). Ada orang yang mengatakan senng saat MA (Mahkamah Agung) mengabulkan bahwa dia harus dipecat, karna kasus nikah singkatnya itu. Ada pula yang kasihan dengan ACENG.  Kenapa bisa berbeda? Karna focus mereka dalam mengartikan cerita  aceng juga berbeda.

Sekarang saatnya kita kembali keJUDUL.loh, kok baru sekarang. Jadi cerita diatas tadi tidak nyambung ke judul ya? Hehe. Sabar.. kita tidak akan mungkin diajarkan perkalian saat penjumlahan belum bisa paham.
PISAHKAN ANTARA TUJUAN DAN CARA ini adalah topic yang sangat penting menurut saya, karna PERCERAIAN, PERTENGKARAN bahkan PERMUSUHAN berawal disini. Maka jangan kedipkan mata anda melihat tulisan berikutnya. Haha....

Saat anak saya berusia kurang lebih 3 minggu. Warna kuning masih ada dikulit tubuhnya. Istri saya mendesak untuk dilakukan pemeriksaan darah  terhadap sang anak. Sedangkan saya mengatakan belum saatnya. Tentunya perbedaan yang terjadi adalah karna perbedaan focus. Istri saya takut terjadi apa-apa pada anak kami dan kami terlambat mengetahuinya karna telat dalam pemeriksaannya. Itu yang difokuskannya.

Sedangkan saya melihatnya secara berbeda. Saya selalu konsultasi dengan Sahabat saya yang sudah menjadi Spesialis Anak dan dari hasil konsultasi itu dia mengatakan bahwa jika dari pemeriksaan lainnya tidak ada tanda-tanda yang mengarah ke kelainan hati. Maka pemeriksaan darah anak saya bisa ditunda.

Saya juga tidak mau anak saya diambil darah karna saya tidak mau menimbulkan trauma baru (ditusuk jarum)  kepadanya jika toh nanti hasilnya ternyata normal. Perbedaan Fokus inilah yang sempat membuat kami “ribut” untuk beberapa saat.

Namun disinilah yang ingin saya beritahukan INTINYA… banyak orang diluar sana yang juga pernah mengalami hal serupa, menjadikan PERBEDAAN ini adalah sumber Perkelahian, Perpecahan bahkan Permusuhan.

Setelah saya mempelajari NLP dan ada tekhnik yang namanya Perceptual Positioning (Saya ajarkan di kelas Workshop Manajemen Emosi ), Tekhnik yang mampu memahami apa yang ada didalam pikiran orang yang sedang berkonflik dengan kita . Dengan tekhnik ini saya jadi tau apa yang ada didalam pikiran istri saya. Setelah saya tau apa isi pikirannya, maka keributan itu bisa langsung reda dan hubungan Harmonis kembali, Gmn Caranya? Karna saya memfokuskan kepada Tujuannya.bukan perbedaan Cara.

Apa yang kami inginkan dari kejadian anak kami yang masih kuning  adalah sama. Yaitu supaya memastikan anak kami  Sehat. Namun Caranya yang berbeda. Istri saya mau langsung dicheck darah, sedangkan saya belum saatnya. Ini yang saya maksud PISAHKAN TUJUAN DENGAN CARA.

Dan untuk bisa mendamaikan “keributan” tadi. Maka komunikasi adalah jalan terbaik. Buang semua Ego anda yang mengatakan bahwa apa yang anda Pikirkan Benar dan apa yang  orang lain pikirkan adalah salah.
Oya. Sebelum saya lupa. Anda harus paham kekuatan dari Fokus. Yaitu hanya tertuju pada apa yang difokuskan dan mengabaikan yang lainnya.

Jika anda memiliki pandangan yang berbeda baik itu kepada pasangan anda, orang tua anda, sahabat, pacar. Pindahkan lah Fokus anda pada Tujuan, bukan Cara. Karna jika anda Focus pada Cara, maka emosi yang hadir Kebanyakan akan mengakibatkan perpecahan bahkan sampai permusuhan.

Pernah dengar seorang anak lari dari rumah karna pasangannya tidak direstui orang tuanya. Saya yakin bahwa tujuan orang tua untuk anaknya adalah sama dengan anaknya. Yaitu memastikan anaknya mendapatkan kebahagiaan dalam pernikahannya. Yang membedakan adalah CARA melihat pasangan Hidupnya. Ayahnya menganggap pasangannya tidak layak membahagiakan anaknya, sedangkan anaknya merasa pasangannya adalah sumber kebahagiaan. Sayangnya tidak ada komunikasi sehingga terjadilah perpecahan antara anak dan orang tua.

Memang untuk bisa memahami ini tidak hanya dengan membaca note ini. Tapi resapi dan lakukan latihan. Coba anda ingat-ingat apa yang pernah terjadi dalam kehidupan anda yang membuat anda mengalami perpisahan. Pahami apa yang anda fokuskan saat itu. Lalu bayangkan jika suatu saat nanti anda mengalami hal yang sama terhadap rekan, pasangan maupun orang tua, langkah apa yang anda lakukan nantinya.