Pernahkah  Anda mendapatkan selebaran promosi tentang bagaimana informasi produk suatu mobil? Pada selebaran tersebut kita akan ditawarkan informasi tentang hal-hal yang bisa kita dapatkan disaat kita mengendarai mobil tersebut. Contohnya, kita akan merasakan nyamannya tempat duduknya, nyaman karna tempatnya luas, nyaman karna mobil tersebut memiliki kecepatan yang baik, nyaman karna memiliki desain interior yang cakep dan segala macam informasi yang dipromosikannya.

Namun kita harus tahu, yang namanya informasi ya tetap informasi. Selama kita tidak menggunakan mobil tersebut tentu kenyamanan itu tidaklah akan kita  dapatkan.

Begitu juga dengan halnya stresor. Itu hanyalah sebuah informasi. Seperti yang saya bahas sebelumnya bahwa kita belum akan merasakan simptom (gejala) dari stresor tersebut sebelum kita berikan respons melalui persepsi kita. Jadi, yang namanya stresor hanya akan menjadi sebuah informasi jikalau kita tidak mengambilnya sebagai suatu masalah untuk diri kita.

 

Persis seperti rumus kehidupan yang dikatakan oleh motivator dunia, Jack Canfield, yaitu :

 

 

Event diartikan sebagai sebuah kejadian. Dimana tiap kejadian selalu bersifat netral sebelum diberikan suatu respons. Response adalah cara kita dalam menanggapi atau menyikapi kejadian yang datang melalui persepsi yang kita miliki. Pada tahap ini tubuh akan menilai, apakah kejadian  itu dianggap sebagai stresor atau bukan. Sedangkan, outcome adalah hasil yang dirasakan  pasca pemberian respons. Suatu Outcome dimulai dari apa yang dirasakan, apa yang dilakukan dan bagaimana dampaknya bagi diri sendiri maupun orang lain pasca tindakan dilakukan.

Kita ambil contoh begini, ada seseorang yang ketika diberikan kritik lantas marah-marah. Karna menganggap hal itu merupakan kebencian dari orang yang memberi kritik. Di tempat berbeda, ada juga orang yang dikritik namun tetap bahagia. Karena orang ini menganggap kritik tersebut adalah sebuah alarm yang berperan sebagai pengingat. Agar kesalahan yang sama tidak sampai terulang kembali.

Kritik dalam hal ini adalah suatu kejadian (Event)  yang pada dasarnya adalah netral. Namun responslah yang menentukan seseorang itu bisa bahagia atau menderita. Seperti cerita diatas. Ketika kritik itu direspons sebagai bentuk kebencian, maka yang muncul adalah kemarahan. Namun jika respons terhadap kritikan dianggap sebagai suatu alarm karna diingatkan akan adanya kesalahan yang perlu diperbaiki  maka akan menghasilkan kebahagiaan. Jadi, poinnya disini adalah bukan pada kejadian yang datang. Melainkan pada bagaimana cara kita merespons kejadian tersebut.

Sama halnya dengan stres, sesuai dengan rumus kehidupan, stres berada pada posisi outcome. Dan outcome ini terjadi bukan karna kejadian (event) tapi pada respons yang diberikan terhadap kejadian tersebut. Sehingga  yang bertanggung jawab akan timbulnya stres adalah yang memberikan persepsi terhadap kejadian yang dihadapi. Untuk itu, agar kita mampu mengatasi stres secara benar, yang perlu dilakukan adalah dengan memberikan pilihan yang tepat terhadap respons.

Disaat kita memutuskan untuk sekolah atau kuliah, misalnya. Ujian merupakan proses awal yang harus dilalui agar kualitas diri menjadi meningkat dan layak naik ke jenjang yang lebih tinggi. Saat ujian berlangsung, kita akan diberikan soal ujian terlebih dahulu lalu dengan kemampuan yang kita miliki, kita diberikan limit untuk menyelesaikan soal tersebut.

Dari hasil itulah kita dapat dinilai, layak atau tidak, naik pada jenjang berikutnya. Ada banyak cara ampuh yang dapat dilakukan ketika kita ingin lulus dalam ujian tersebut. Mulai dari mengulang kembali materi yang pernah diajarkan, melakukan diskusi kelompok hingga melatih soal-soal yang diprediksi akan keluar saat ujian nanti. Cara-cara ini adalah sekumpulan pengalaman  yang dapat kita jadikan sebagai guru terbaik. Namun masalahnya, sudahkan kita menjadi murid yang baik?

Ibarat ujian tadi maka kehidupan ini pun demikian. Setiap individu akan diberikan soal kehidupan atau yang sering kita sebut sebagai masalah. Dengan kemampuan yang kita miliki, kita diminta untuk menjawab soal kehidupan tersebut. Seperti agama yang mengatakan bahwa tidak pantas seorang dikatakan beriman sebelum diberikan cobaan. Dari jawaban tersebut kita juga akan memiliki konsekuensi berhasil atau gagal.

Jika kita berhasil menjawab soal ujian dengan baik, maka kita akan memiliki kualitas diri yang lebih tinggi dari sebelumnya. Seperti kedewasaan, kebijaksanaan, kemampuan dan kebahagiaan. Begitu juga sebaliknya, seandainya kita gagal dalam menjawab berbagai soal tersebut, tekanan  hidup yang berat sudah menunggu di depan mata. Bahkan jika hal tersebut dibiarkan berlarut-larut niscaya akan menyebabkan kualitas diri seseorang menjadi rendah. Seperti munculnya penyakit, depresi, sedih berkepanjangan, atau rasa penderitaan yang mendalam.

Untuk itulah, pada bab ini saya akan memberikan prediksi ‘soal kehidupan’ yang secara umum sering keluar. Hal ini bertujuan  agar Anda dapat segera mempelajarinya sehingga dapat  mempersiapkan diri untuk mampu  memilih respons yang tepat. Kemampuan memilih respons yang tepat kelak akan membantu Anda terhindar dari stres.

 

Jika kamu gagal mempersiapkan kebutuhan hidup,

kamu sedang mempersiapkan kegagalan dalam hidup.

a anonim b.

 

Dalam konteks rumus kehidupan, event ditambah response menghasilkan outcome, hal pertama yang perlu kita pelajari terlebih dahulu adalah tentang event atau kejadian serta mempelajari bagaimana suatu kejadian itu dapat terjadi? Ada asap tentu saja ada api. Begitu juga dengan proses terjadinya suatu kejadian, pasti didahului dengan adanya penyebab.