Serupa dengan  ikhlas, kata ‘sabar’ merupakan kata yang juga sering diberikan kepada orang yang tengah dilanda musibah. Tidak sedikit diantara kita sering mengucapkannya namun dalam prakteknya amat sulit untuk dilakukan.

Sering kita mendengar kata Sabar itu ada batasnya. Di sinilah letak masalahnya sehingga mengapa sabar tidak juga memberikan efek positif dalam  meredakan emosi. Sabar sering diidentikkan dengan berdiam diri dan  tidak melakukan apa-apa. Ketika dihina dan kita diam, artinya pada posisi ini kita masih sabar. Dihina lagi lalu diam lagi, ini pun dianggap masih sabar. Kemudian dihina lagi, maka dalam tatara ini biasanya kita membalas dengan pukulan. Dalam keadaan ni baru dikatakan sabar itu ada batasnya. Inilah definisi yang harus diubah.

   Sabar itu bukan diam, berpangku tangan atau tidak melakukan apapun.Sabar itu tiada batas. Kitalah yang membatasinya. Apakah jumlah air di muka bumi ini terbatas? Tentu tidak. Namun kalau kita mengisi air ke dalam gelas tentu air tersebut akan  menjadi  terbatas. Volume air hanya sebatas isi gelas, jika diberikan melebihi kapasitas gelas tentunya akan meluap dan tumpah.

Begitu juga dengan kesabaran. Kitalah yang menetapkan kapasitas menampung kesabaran itu. Jadi batas sabar itu adalah pada besarnya daya tampung kita terhadap kesabaran kita sendiri.

Sekarang saya akan memberikan perumpamaan agar Anda dapat mengambil makna tentang sabar itu sendiri. Sehingga dengan begitu, Anda dapat memakainya untuk proses pengendalian stres.

·           Pengendali Emosi

Suatu emosi disebut positif dan negatif tergantung pada penggunannya. Pengertian sabar disini membuat kita untuk memilih emosi yang positif terhadap tindakan yang ingin kita lakukan. Titik poinnya terletak pada kebermanfaatan untuk kita sendiri.

          Coba bayangkan, seandainya anak Anda sedang bermain di dekat penggorengan. Apakah Anda akan diam saja? Tentu tidak, kan? Anda harus memarahinya agar anak Anda sadar bahwa tempat itu berbahaya. Marah kesadaran seperti ini dan dilakukan dalam tujuan yang positif, juga termasuk kategori Sabar.

          Berbeda dengan ketika kita marah saat dihina orang lalu kemarahan yang tidak terkendali membuat kita bertindak kriminal, seperti memukul atau membunuh. Seseorang disebut sabar manakala orang tersebut secara sadar mampu memilih emosi yang bakal digunakan dalam bertindak.

          Marah dapat diakses secara sadar untuk memberi tahu kesalahan orang lain. Sedih pun dapat diakses secara sadar untuk memberikan doa kepada orang yang baru meninggalkan kita. Begitu juga dengan dendam, yang dapat diakses secara sadar untuk memberikan motivasi kepada diri sendiri. Agar kita menjadi pribadi yang lebih baik dari orang yang menghina.

 

·           Kesatuan antara Badan dan Pikiran.

Pernahkah Anda merasakan stres saat terjebak macet dalam perjalanan? Jika pernah, apakah sebenarnya yang terjadi saat itu? Ya, jawabannya adalah pikiran dan badan kita saling tidak selaras.

          Pikiran berada pada pekerjaan atau dirumah sedangkan tubuh masih terjebak dalam kemacetan. Pikiran Anda membayangkan kalau seharusnya Anda sudah berada di kantor namun kenyataannya tidak. Kalau sudah begini, stres pasti akan muncul.

          Kalau memang demikian, tindakan yang harus kita lakukan untuk mengatasi stres saat itu adalah dengan bersabar. Jikalau memang tidak adalagi usaha yang dapat dilakukan untuk menembus kemacetan, sabar yang dimaksud adalah mengembalikan pikiran Anda ke tempat Anda berada sekarang.

          Kalau tempat kita sedang berada di tempat macet, ambil kegiatan yang dapat Anda lakukan ketika berada dalam kemacetan tersebut. Seperti mengamati pengamen jalanan, penjaja minuman dan mainan atau mendengarkan musik.

 

·            Berada dijalur Proses, bukan Hasil

Kita tahu bahwa untuk melewati 1 bulan kita harus menempuh kurang lebih 30 hari, dan untuk melahirkan bayi yang sehat membutuhkan waktu kurang lebih 9 bulan 10 hari atau 38 minggu. Artinya segala sesuatu hasil harus melewati proses. Tidak ada yang terjadi secara instant. Dan kesabaran yang saya maksud disini melebur dengan proses, bukan hasil.

Ketika saya menyelesaikan naskah buku ini. Tentu saya ingin secepat mungkin buku ini langsung diterbitkan. disaat itu terjadi timbullah ketidak sabaran saya. namun saya sadar bahwa segalanya ada proses. Ada proses editing, ada proses lay out, desain cover, isbn sampai proses cetak yang membutuhkan waktu sampai buku ini terbit. maka yang saya lakukan adalah melebur dengan waktu. Menikmati waktu-waktu menjelang hasil itu terjadi.   

Mungkin anda menginginkan membeli barang, namun barang itu mesti dikirim dari luar kota dan menempuh waktu kurang lebih 2-3 hari agar barang tersebut bisa sampai ketempat Anda. Kesabaran yang harus Anda lakukan adalah Anda harus melebur pada  proses. Pikiran Anda harus tetap diwaktu saat proses berlangsung. Karna jikalau waktu masih berlangsung dan pikiran Anda sudah dihasil maka Pasti Anda akan mengalami ketidaksabaran.


jadi, sudah tau bahwa sabar itu adalah suatu pekerjaan? yang sesuatunya bisa terjadi apabila ada yang dikerjakan.. Sabar itu hasil dari suatu hal yang dikerjakan, bukan diam dan menunggu.